“Iqra’!!” Bacalah Sebagaimana Diperintahkan Kepada Nabi Muhammad SAW

Oleh : Basir mustofa

Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang diutus oleh Allah Swt menjadi rasul terakhir di muka bumi ini. Perjalanannya panjang, beberapa riwayat telah memberikan penjelasan bagi kita semua bahwa beliau adalah salah satu rasul yang juga mendapatkan sebuah anugerah yang begitu luar biasa. Anugerah itu biasa kita menyebutnya dengan wahyu. Dalam perjalanan hidup yang penuh lika-liku, memang pada akhirnya Nabi Muhammad mendapatkan wahyu untuk pertama kali yaitu berupa iqra’ melalui perantara malaikat Jibril ketika berada di Gua Hira. Ayat tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab suci yang diyakini oleh orang-orang pemeluk agama Islam. Lebih tepatnya adalah berada pada ayat kesatu surat Al-Alaq.

Iqra’ jikalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia akan memiliki arti kurang lebihnya adalah ‘bacalah’. Ia merupakan kalimat perintah yang dalam tata bahasa Arab biasa disebut dengan fi’il amr . Kalau kita mau memahami perintah tersebut, tentu kita akan mendapatkan atau setidaknya akan mencoba untuk mendapatkan makna “bacalah” tersebut. Tentu dalam hal ini, membaca yang dimaksudkan adalah membaca dalam arti lingkup luas. Membaca yang tidak hanya terkotak pada buku bacaan, tapi membaca bisa di terapkan saat melihat iklim sosial, dinamika sosial, realitas sosial, dan apa pun yang berada di depan mata. Selain itu membaca dengan tidak terpaku pada apa yang dibaca. Namun, membaca yang diharapkan adalah melihat dengan indera kepala yang kita miliki dengan melibatkan perasaan pada tataran kesadaran dari diri terhadap realitas serta memahami makna dari pesan-pesan yang ada baik tersurat maupun tersirat.

Membaca, dengannya kita bisa tahu tentang cakrawala ilmu yang terdapat di dunia ini. Dengan membaca, manusia bisa tahu dan dapat memaknai pesan tersurat maupun tersirat dari apa yang ia lakukan. Itu dapat tercermin dari hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia hingga hubungan dengan alam. Melewati berbagai tafsiran dari apa yang telah dibaca. Namun, dengan berbagai ragam tafsiran yang ada akan memunculkan sikap arif dari masing-masing manusia. Sikap tersebut akan termanifestasikan, yang salah satunya adalah dengan cara diskusi atau melakukan ”rembuk”. Kebenaran maupun kevalidan dari hasil membaca tidaklah cukup ketika tidak mau malakukan diskusi dengan tujuan membandingkan kepada yang lain maupun mencari sebuah klarifikasi yang pada akhirnya bermuara pada sebuah keyakinan akan suatu hal yang benar.
Tak ada hal yang sia-sia ketika kita mau membaca. Tak ada hal yang akan merugikan kita ketika kita mau membaca. Tak ada yang mebodohkan diri kita maupun mendekatkan kita pada sebuah kedunguan ketika kita mau membaca. Kita tentu tidak akan menjadi orang yang bebal kalau kita mau membaca. Membaca, barangkali kata kerja yang sangat begitu sederhana.

Namun, untuk sebagian besar orang merasakan hal tersebut adalah perkara yang sulit. Di pelajaran sekolah dari setiap kurikulum mungkin akan selalu ada pelajaran membaca, namun apakah membaca kita selama ini hanya terpaku pada kurikulum? Dan sedangkan di luar itu, tidak banyak yang melakukannya. Bukankah ia adalah kata kerja yang mampu berdiri sendiri, namun berdirinya ia mampu menopang segala peradaban di dunia baik sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, hukum maupun kesehatan. Berdirinya ia pun sebagai salah satu cara dalam menggali segala pengetahuan dan wawasan di dunia ini. Bahkan bisa lebih dari itu.

Berbagai karya-karya luar biasa dari para pegiat literasi sudah kita bisa saksikan bersama-sama hingga saat ini. Apakah kita hanya ingin menjadi pengamat dari karya apa yang telah digoreskan oleh para pendahulu. Bukankah kita adalah menjadi bagian generasi yang harusnya sudah sadar akan tanggung jawab itu. Kita adalah bagian dari generasi yang akan menjadi bagian estafet sebagaimana orang-orang yang telah menggoreskan karya baik di segala bidang dan kemampuannya. Melalui peristiwa turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw adalah menjadi salah satu contoh bagaimana tentang estafet literasi. Generasi-generasi di bawahnya yang diharapkan menjadi para penerus dan pengikut setianya. Melakukan dan mengusahakan dengan semaksimal mungkin adalah sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan. Serta menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari tonggak sejarah peradaban dunia. “IQRA’!”, sebagaimana Muhammad pernah mendapatkan perintah itu.

(bashir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*