Jika Tidak Ada Poros Baru, Pasangan OK Akan Menang Mudah

Oleh : Mahsun Fuad

Ngawi | NgawiKita.com – Memasuki tahun 2020, suhu dan eskalasi politik di kabupaten Ngawi semakin meningkat. Pada tahun ini, Kabupaten Ngawi merupakan salah satu dari sekian banyak kabupaten/kota di Indonesia yang bakal menggelar pemilihan kepala daerah. Tahapan-tahapan pilkada ini juga telah berjalan, seperti telah selesainya pembentukan panitia dan pengawas pemilu.

Gawe politik lima tahunan ini selalu menjadi menarik untuk disorot, terutama persoalan siapa saja bakal calon bupati yang muncul, partai politik apa saja yang bakal melakukan koalisi, adakah poros baru, siapakah calon independen, dan bagaimana nasib incumbent.

Hal demikian ternyata juga menarik perhatian Mahsun Fuad, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Ngawi untuk memberikan pengamatannya. Ditemui di sela-sela acara Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser di Kecamatan Kendal, (22/01/2010). Gus Mahsun, demikian panggilan akrabnya, melihat bahwa selama tidak ada pergerakan politik yang nyata dan sistematis dari calon-calon yang lain, pasangan Ony-Antok (OK) akan menang secara mudah pada pilkada kali ini.

“Saya melihat beberapa orang yang beredar dan muncul sebagai calon persiapannya belum meyakinkan. Politik kan ada fatsumnya. Beberapa nampak menjadikan momen pilkada kali ini hanya sebagai alat untuk bargaining posisi, menaikkan kelas, coba-coba, dan meraup popularitas. Saya menilai demikian karena “recourses” yang mereka miliki belum menggambarkan syarat rukun yang mencukupi untuk bisa maju sebagai calon bupati dan wakil bupati Ngawi,” ujarnya.

Menyinggung soal adanya poros baru yang bisa menandingi pasangan Ony-Antok (OK), aktifis kontra radikalisme PW Ansor Jawa Timur ini masih melihat adanya kemungkinan dan peluang itu, di antaranya poros “Hijau Ngawi Bersatu”.

“Kalau poros hijau ini bisa terbentuk bisa jadi pilkada Ngawi akan berlangsung sengit dan menarik. Kita bisa menilai potensi kekuatan poros ini. Di dalamnya ada NU, Muslimat, GP Ansor, Fatayat, dan beberapa banom NU lainnya. Masing-masing, disamping mempunyai massa ideologis yang jelas, juga mempunyai massa penggerak dan simpatisan yang besar. Kalau ada yang mampu mengkonsolidasikan, maka akan menjadi kekuatan yang benar-benar dahsyat dan sangat layak diperhitungkan sebagai kompetitor,” terangnya.

Semangat untuk membentuk poros hijau ini, menurut Gus Mahsun, sebenarnya telah ada “restu terbersit” dan pijakan sebagai momentumnya. Di internal Nahdliyin, adalah pidato bernada sindiran dari ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj yang mengatakan agar tidak usah menyalahkan siapa-siapa, kalau suara Nahdliyin saat pilpres kemarin dimanfaatkan, tetapi begitu selesai ditinggal.

Bahkan di banyak kesempatan, ketua umum PBNU ini juga sering mengatakan bahwa peran NU sebagai ashabul haq (pemilik dan penjaga kebenaran moralitas) juga harus dimbangi dengan dan segera bergeser kepada peran ashabul qarar (pembuat dan pemutus kebijakan publik).

“Ini maknanya apa? Maknanya, ada suasana kegelisahan, sekaligus kesadaran dan semangat yang besar dari warga NU untuk masuk ke dalam struktural kekuasaan agar potensi kontribusi organisasi ini bagi bangsa semakin mantap. Persoalannya, ada nggak kekuatan (dalam poros hijau ini) yang mau memulai membangun komunikasi politik serta mengkonsolidasikan stakeholder yang ada di dalamnya,” tutupnya.

(aq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*