Menanam Pancasila Dengan Pupuk Kemunafikan

Oleh : Basir Mustofa

Opini | NgawiKita.com – Dulu, di zaman Orde Baru, kata Bapakku ada mata pelajaran BP7. Huruf ‘p’-nya sampai tujuh biji. Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila(BPPPPPPP). Terrpaksa disingkat BP7. Tahu kenapa disingkat pakai angka ‘7’?sebab, kalau diketik lengkap BPPPPPPP di dalam dokumen harian atau di dalam korespodensi,khawatir huruf ‘P’ nya kurang atau lebih. Tak percaya coba Anda hitung huruf ‘p’ yang tertulis diatas ada tujuh biji atau tidak?
Nah, begitulah susahnya pemerintahan Orde Baru memasnyarakatkan pancasila. Dibuat badan khusus dengan biaya besar.

Waktu itu para petinggi negara khawatir rakyatnya tidak paham pancasila dan tidak pancasilais. Digagaslah BP7 guna sebagai mesin otomatis Pancasila. Saking hebatnya mesin ini, Anda tidak akan bisa menghafal kepanjangam BP7 dalam tiga kali baca. Coba saja.

Mesin otomatis buatan ORBA ini digunakan sebagai alat untuk memompakan nilai-nilai falsafah bangsa ke dalam diri pegawai negeri dan mahasiswa. Mereka ini dianggap sebagai lapisan yang menentukan indonesia menjadi pancasilais dan tidak.

Dilaksanakanlah penataran P4, Pedoman,Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Dengan tujuan agar orang yang ditatar menjadi baik. Agar jiwa yang tidak pancasilais lenyap dari birokrasi. Dan agar para calon pemimpin yang sekolah di perguruan tinggi, menjadi manusia pancasilais.

Hasilnya?Korupsi merajalela. pemyelewengan uang negara makin marak. Jurang kaya-miskin semakin melebar, penggundulan hutan mencapai puncak. tanah dikota digusur menjadi bangunan tinggi, pertambangan yang ada di gunung-gunung digali. Para pelaku kejahatan ini semua hafal pancasila. Mereka sudah di wisuda sebagai peserta penataran P4. Penataran P4 tidak berdampak apa-apa.

Sama halnya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Semua yang ada di dalam digaji besar. Dengan pernyataanya “Manusia Pancasilais Akan segera dirilis”.

Hasilnya?omong kosong. prototipe pancasilais tak kunjung mucul. Korupsi tetap merajalela BUMN menjadi sarangnya koruptor. Pemilu sebagai ajang jual-beli suara. Semua lembaga kepemiluan dihuni orang-orang yang haus duit. Suara rakyat dibungkam dengan uang, ditipu. Yang benar dikatakan salah, yang salah dibalik menjadi benar.

Parpol-parpol tetap melakukan cara haram mencari dana operasional. Kelakuan para pemimpin parpol tak berubah, masih terus munafik. Hidup mewah tapi sok peduli rakyat kecil. Pura-pura bersih, padahal maling semua. Pancasila semakin diremehkan. Mereka bersilatlidah.

Para pejabat tinggi di semua tingkat menjadi ganas. Semua diolah untuk memperkaya diri, mereka berkoar-koar mau memperbaiki kehidupan rakyat, tetapi sejatinya, mereka munafik.

Nah, ini dia. Kita temukan sekarang ‘keyword’-nya. Kata kuncinya: Munafik dan Kemunafikan.

Kemunafikan itulah problem besar. Bagaimana kalian bisa mengharap nilai-nilai luhur Pancasila tumbuh kalau pupuknya kemunafikan?

Anda berceramah tentang kejujuran tetapi Anda sendiri yang menilap uang rakyat.
Anda jelaskan soal keadilan sosial,tapi Anda melakukan kezaliman.
Anda pidatokan perihal kemanusiaan sementara kalian sendiri kejam, beringas.

Pancasila mengajarkan hidup sederhana dan berbagi kepada sesama. Tetapi kalian semua rakus dan tamak. Serasa Sila ” Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” kalian ubah “Keadilan sosialita bagi semua yang banyak korupsinya”

Jadi, Salah siapa? Yang salah adalah kalian semua yang masih menghuni sistem kenegaraan ini. Kalian itu adalah problem Bukan solusi. Kalian penipu,bukan yang ditipu. Kalian perampok, bukan korban.

Itulah sebab pancasila tidak bisa mengakar. Karena kemunafikan kalian semua. Bukan karena ketiadaan BP7 dan keberadaan BPIP yang menjadi masalah. Tetapi keteladanan pancasila dari kalian semua. Padahal, Kalian paham Pancasila.

Jadi, percuma kalian tanam pancasila sedangkan yang kalian tanam kemunafikan.

(bsr/aq)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*