Antara Materialisme Religius, dan Materialisme Keimanan

ngawikita.com – Ada ungkapan Jawa yang kira-kira begini: “Yen mung rupa sing gawe atimu tresna, banjur kepiye anggonmu tresna marang Gusti sing tanpa rupa?”

Manusia bukan hanya jasad, bentuk, atau rupa tetapi juga diberi akal dan pikiran, sifat baik dan buruk serta rasa dan perasaan. Sang Pencipta manusia telah memberi patokan ukuran kesalehan dan ketakwaan. Cara guyon jawanya: “Allah ora ndelok dapuranmu, ananging atimu.” Lalu pertanyaannya tentu: ada apa dengan hati sehingga hati (qalb) itulah yang dilihat Allah, bukan bentukmu yang gembrot atau langsing, hitam pesek atau hitam mancung, rambut kribo atau rambut jabrik …

Urusan “hati” menurut ajaran dalam tradisi tasawuf sebenarnya hanya salah satu bagian dari sisi “batin” atau “ruhani” manusia. Tetapi memang hati atau qalb itulah yang paling menonjol sehingga ia digunakan untuk menyederhanakan beragam aspek ruhani manusia demi kepentingan pembelajaran secara kognitif.

Allah menyebut apa-apa yang ada dalam hati sebagai kriteria. Dan kita semua tahu bahwa segala yang tersimpan dalam hati pada dasarnya tidak ada wujudnya yang bisa kita lihat secara kasat mata. Simpanan hati bisa terlihat ketika ia diekspresikan secara lahir. Marah misalnya. Kalau engkau marah lalu mata melotot, bicara teriak-teriak sampai urat leher nongol dan makian kebun binatang berhamburan, orang lain baru tahu kalau engkau marah. Tetapi kalau engkau marah tetapi diam saja, ekspresi biasa, malah tampak ramah, omongan lembut, ya orang tidak tahu bahwa hatimu sedang marah (padahal mungkin ketenanganmu itu demi menutupi dendam dan keinginan untuk menyantet diam-diam, misalnya).

Rasa dan perasaan di hati hanya yang merasakannya yang tahu. Misal, Aku bisa menutupi dorongan rasa dari syahwatku yang hobi nonton Kakek Sugiono dengan cara nontonnya diam-diam, dan saat bergaul aku selalu pakai peci dan sarungan; kalau di medsos bikin kata bijak, perbanyak tulisan religius full dalil atau seperti saat ini, nulis panjang kali lebar soal hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perfesbukan. Kalau tidak konangan, syahwat yang aku simpan di hati tidak akan terlihat berkat tampilanku yang relijiyes dan lambe penuh kata-kata suci — dikit-dikit subhanallah, astaghfirullah, alhamdulillah, walaupun nonton kakek Sugiono jalan terus tanpa ketahuan. Orang juga tidak tahu bahwa kita bisa saja membayangkan dalam akal-pikiran sesuatu yang “nana nina ihik-ihik oh yes oh no” saat bicara dengan lawan jenis.

Jadi bagaimana? Apakah kita akan terus “mematerialkan” ukuran kesalehan dan ketakwaan secara absolut? Ini bukan berarti dapuranmu tidak penting. Sebab, misal, walau kita jujur dan tulus dalam cinta sedalam samudera, kalau pedekate ke cewek dengan tampilan baju kumuh ketek kecut mulut bau naga tidak sikatan rambut penuh kecoa ya jelas akan menyebabkan cewek histeris karena dikira dimodusin wong kenthir.

Masalahnya adalah itu tadi: kita sekarang cenderung nyaris secara absolut mematerialkan ukuran kesalehan. Misal: Kalo tidak pake baju ini itu berarti imanmu ambyar; kalo sedekahmu tidak kunjung bikin kamu kaya secara ajaib berarti sedekahmu tidak ikhlas; kalau tubuhmu membulat menggembung dan.melebar maka kesalehanmu ecek-ecek; kalau tidak berbini empat maka kamu kurang iman; kalau jilbabmu belum kayak begini dan begitu berarti tidak sesuai syariat sehingga imanmu dianggap lemah, dan seterusnya.

Menjadikan sisi materi/lahir sebagai ukuran absolut akan membahayakan sisi batin. Misal, karena merasa sudah perutnya sixpack atau badan langsing bagaikan pramugari menyebabkan kita merasa “lebih” soleh dan solehah. Lama-lama kita merasa lebih baik, “ana khairun minhu” dan jadi membawa sifat keiblisan dalam diri.

Contoh bahaya soal ini yang sekarang paling hit adalah jika materialisasi ukuran ketakwaan ini disambut oleh hawa nafsu mesum dari diri yang memuja kakek sugiono itu. Yang terjadi adalah semacam fetisishme relijiyes yang menciptakan aksi eksploitasi berbungkus reliji terutama oleh kaum lelaki. Kita tentu kalau mau jujur pernah dengar jargon-jargon istri solehah yang diciptakan oleh pria yang secara garis besar maknanya begini : kalo kalian, wahai wanita, tidak bisa menjaga penampilan dan tidak bisa menyenangkan suami maka …. (teruskan sendiri… ). Kita tentu masih ingat ada penceramah yang bilang soal “pesta seks di surga,” atau syahid demi 70 bidadari yang selalu perawan (lha kalau wanita piye? 70 bidadara yang perjaka?) artinya semua urusan secara implisit dikaitkan dengan nafsu syahwat. Bidadari atau apapun yang ada di surga tidak pernah kita dengar lihat atau bayangkan. Tetapi begitu kita terbiasa mematerialisasikan ukuran iman, maka syahwat yang menyambut harapan surgawi kita. dan mengait-ngaitkannya dengan kesenangan yang ukurannya adalah kenikmatan dunia. Lhaaa tapi masak iya kebahagiaan surga sama kayak kesenangan dunia?

Lalu kita lupa bahwa setiap orang tidak hanya punya badan, tetapi juga rasa. “Rasa” atau dzauq inilah yang akan amat membekas, baik rasa dan perasaan kita dalam hablum minannas maupun dalam hablum minallah. Dalam relasi antarmanusia, misalnya walau suami atau istri kita cakepnya ngudubilah setan, sekali terjadi khianat, yang terluka pertama kali adalah rasa dan perasaan kita yang menyebabkan rupa yang tadinya cakep jadi memuakkan di mata pihak yang hatinya terchakitty chellalu. Dan rasa-perasaan yang teriris-iris ini dampaknya bisa amat banyak dan panjang dan tahan lama. Itu salah satu contoh. Atau misal lain, walau aku tiap hari pakai sarung dan peci atau bahkan ubel-ubel tumpuk tujuh namun ketika ketahuan nyolong dan nonton kakek sugiono maka yang pertama kali dirasakan orang lain adalah kejengkelan dan kemuakan sehingga kadang sampai terucap “dasar munafik.”

Bagaimana dengan rasa atau.dzauq kita dalam relasinya dengan Allah Yang memberikan rasa itu. Ini lebih gawat. Kita sering dengar ungkapan “merasakan kehadiran Allah dalam shalat, doa atau zikir dan dalam kehidupan sehari-hari.” Mengapa? Sebab kita tak bisa melihatNya, tetapi bisa merasakanNya. Orang arif, wali Allah misalnya, kerap dikatakan memiliki rasa yang paling tajam dan bening tentang kehadiran dan campur tangan Ilahi, sehingga mereka lama-lama takut sekaligus cinta. Takut dilupakan olehNya dan mencintaiNya karena diberi “rasa” yang mampu “menyaksikan keindahan dan kebaikanNya.”

Bagaimana dengan kita. Kalau aku, misalnya, masih suka nonton kalek sugiono diam-diam, atau rajin berdusta dan memfitnah misalnya, maka aku sama artinya belum atau tidak mau merasakan kehadiranNya yang selalu mengawasi dan melihat semua tingkah laku lahir batin dalam diriku. Aku berani melanggar perintahNya karena aku merasa Dia tidak melihatku, Dia tidak menyertaiku. Jadi walau aku bertampang relijiyes dan perut sixpack, namun karena aku, misalnya, masih mendustai diri dan orang lain, maka hatiku masih penuh dengan kotoran syahwat dan hawa nafsu. Dan Allah melihat hatiku. Kan ngeri sebenarnya, ya kan? Ya kan?

Hati-hati dengan hati karena rasa dan perasaan dalam hati adalah ayat-ayatNya yang sering kita abaikan karena kita lebih suka menengok keluar menghakimi iman dan kesalehan liyan, dan mematok-matok ukuran kesalehan (yang seharusnya bersifat ruhaniah) berdasarkan nafsu dan syahwat yang lebih suka pada ukuran yang bersifat duniawi dan fana, seperti jasadiyah, materi, kekuasaan, penampilan, kebanggaan harta dan pangkat, dan lainnya yang akan hancur di telan zaman.

Wa Allahu a’lam bi muradih

Oleh : Basir mustafa

Editor : Ahmad Qudori

Iklan