Corona (Covid – 19 ), Tinjauan Berbagai Perspektif

Ngawi | Ngawikita.com – Dalam sepekan ini publik di hebohkan dengan pandemi virus corona atau  severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) . Penyakit yang di sebabkan infeksi virus Corona di sebut COVID – 19 . Virus ini menjangkit semua golongan tanpa pandang usia . Akhir Desember 2019 Virus ini menyerang Wuhan, China dan menyebar cepat di berbagai negara termasuk Indonesia . Bahkan negara Arab Saudi sampai menunda kunjungan jama’ ah umroh dari berbagai penjuru dunia.

Di indonesia , wabah ini mendapat respon dari pemerintah pusat dengan mengeluarkan kebijakan diantaranya social distancing, prroses pembelajaran yang harus di lakukan secara daring / online dan pelarangan sementara perkumpulan yang melibatkan massa. Hal ini pun menuai komentar dari berbagai pihak , komentar ini di lontarkan oleh netizen di akun media sosial pribadi baik melalui Facebook maupun whatsapp, komentar yang di lontarkan para netizen ada yang normatif sampai ada yang menggelitik lucu, tapi beberapa juga menuai perdebatan .

Sebagian orang berkomentar , terjangkitnya virus Corona adalah atas kehendak Tuhan , penyakit atau mati juga kehendak Tuhan . Di sisi lain ada yang berpendapat kalau tidak melakukan social distancing di tuduh melanggar aturan dengan alasan menyebarkan virus , penyakit. Di sini kadang orang dilema terkait situasi dan kondisi yang terjadi karena komentar dan arus informasi yang menyebar cepat .

Seyogyanya , para pihak harus mampu memberi solusi ,baik dari kalangan agamawan , politisi , maupun intelektual akademisi, maupun pihak medis. Seperti yang di ketahui di dunia ini ada dua hukum yaitu sunnatulloh ( hukum alam ) dan Qudrotulloh ( takdir Tuhan ).
Sunnatulloh atau hukum sebab akibat ini merupakan hukum timbal balik yang ada di alam ini yang sesuai ketentuan Tuhan sebagai pencipta semesta alam. Pun demikian COVID – 19 pun akan menyebar dengan cepat sesuai sunnatulloh sebagai penyakit menular. Tetapi masalah menyebar atau mati kita terjangkit COVID – 19 merupakan hak prerogratif Tuhan semata sesuai Qudrotulloh ( kehendak Tuhan ) . Hal ini penting melihat perdebatan yang timbul di media massa dan arus informasi yang semakin cepat di kalangan masyarakat era post truth ini. Serta pemerintah dan orang pintar mampu mencerahkan situsai dan kondisi dan sikap yang harus di hadapi oleh masyarakat.

Oleh : Ali Sujito ( SGP) ,mahasiswa pendidikan IPA STKIP modern ngawi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*