Ditengah Naiknya Harga Pupuk Kimia, Petani Milenial Ini Bertani dengan Cara yang Berbeda

Akhir tahun 2021 ini beredar informasi kenaikan harga pupuk subsidi maupun non subsidi. Kenaikan harga tersebut bahkan mencapai 70%, pupuk urea non subsidi misalnya, sekarang harganya kisaran Rp. 500.000 rupiah per 50 Kg. Hal ini tentunya memaksa petani untuk menghemat penggunaan pupuk kimia sintetis untuk tanamannya.

Berbeda dengan Bendiel Sumarno, salah satu petani organik yang sudah bertahun-tahun tidak menggunakan pupuk kimia dalam bertani. “Saya bertani sejak tahun 2014 dan tidak menggunakan pupuk dan racun kimia sintetis”. Ungkapnya.

Untuk memelihara tanamannya, pemilik channel YouTube BEND AGRIKULTUR ini menggunakan bahan-bahan organik yang dikomposkan dan juga pestisida nabati yang dibuat dari bahan yang mudah dicari disekitarnya. “Pada prinsipnya bertani itu tidak sekedar menanam saja, tetapi yang paling penting adalah menyuburkan tanahnya dulu”. Tambahnya.

Menurutnya, jika petani hanya berfikir tentang tanamannya saja maka biaya produksi akan menjadi tinggi dan berpengaruh pada hasilnya. Karena dalam pertanian konvensional petani mengandalkan bahan-bahan kimia sintetis untuk memenuhi kebutuhan tanaman dan juga membasmi hama. Sementara harga pupuk dan racun kimia sintetis semakin mahal.

Dia berharap para petani tidak pusing memikirkan harga pupuk kimia yang terus naik, dan petani mulai beralih pada pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menurutnya, bertani dengan menghormati lingkungan adalah pertanian masa depan, selain produk yang dihasilkan sehat ekosistem di lahan pertanian juga akan tumbuh dan berkembang sehingga petani tidak lagi kewalahan menghadapi hama.

Untuk memudahkan menularkan pengalamannya dalam bertani organik, dia membuat video dichannel YouTube yang bisa diakses oleh siapa saja. Dalam channel tersebut dia mendokumentasikan perkembangan tanamannya yang dibudidaya secara organik dan juga banyak video tentang pembuatan pupuk organik cair.

Iklan