Foto: ngawikita.com

Gerakan Pertanian Organik, Tak Seribet yang Dibayangkan

“Rasah nyawang sepionmu sing marai ati, tambah mbebani”, terdengar suara lagu yang mengiringi diskusi sore ini, di tempat biasa kami berkumpul untuk sekedar menghilangkan lelah usai sibuk dengan aktivitas masing-masing di luar sana. Meski beragam latar belakang profesi dan status namun tetap bisa bercanda tawa dengan permaian andalan, kami menyebutnya jengkengan, permainan kartu dengan aturan yang kalah harus njengkeng.

Usai permainan sebagian dari kami pulang ke rumah masing-masing kecuali sahabat-sahabat saya yang masih mahasiswa. Bisa dibilang mereka adalah penghuni base camp. Terlihat deretan gelas didepan kami dan kopinya mulai mengering, sisa dari seduhan sejak tiga jam tadi. “Piye kabare pari organik kang Bend?” Salah satu dari sahabat saya nyeletuk. “Baik-baik saja”, sahut saya, meski rencana pelatihan dengan desa-desa yang sudah saya jadwalkan ambyar dihantam corona.

“Aku jane yo pingin belajar organik tapi sik kuliah, wektune urung enek”, kata sahabat saya yang satunya. Sepontan membuat saya domblongen dan bertanya-tanya dalam hati. “Apa benar bahwa gerakan pertanian organik itu terkesan ribet?” Sahabat saya yang notabenenya menyandang gelar mahasiswa saja masih kesulitan mencerna istilah pertanian organik.

“Tak gawekne kopi meneh yo? Ojo buyar disik”, suara dari sahabat saya yang baik hati dan tidak sombong, memecah kendomblongan saya. “Awakmu pernah krungu istilah agribisnis gak?” Tanya saya dengan nada agak sombong biar terkesan pintar, maklum sudah dianggap sebagai senior.

Ruang lingkup pertanian padi organik jika dimaknai dengan kaca mata agribisnis akan sangat luas, mencakup kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pertanian mulai dari hulu sampai hilir. Tidak terbatas pada persoalan budidaya saja. “Ojo dibayangne pertanian kui mung piye carane macul, ndaud karo nandur”, terpaksa saya harus menjelaskan dengan bertele-tele.

Dalam agribisnis, menurut pendapat para ahli yang saya rangkum setidaknya terdiri dari tiga kegiatan yang berhubungan dengan pertanian yakni budidaya, penanganan pasca panen dan pemasaran produk. Pertama, budidaya, kegiatan ini mencakup pengolahan lahan, pembenihan, penanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan panen. Tahapan ini sangat penting karena merupakan langkah awal yang akan mempengaruhi kegiatan selanjutnya terutama pada kualitas produk yang dihasilkan.

Syarat utama untuk kegiatan usaha yang pertama tersebut adalah adanya lahan. “Persoalan awakmu gak iso macul iku gampang, penting iso nduding”, jelas saya dengan nada bercanda. Tentunya semua cakupan tersebut harus ramah lingkungan dan berkelanjutan karena yang kita bahas pertanian organik.

Kedua, penanganan pasca panen, cakupannya antara lain pengeringan, penggilingan dan pengemasan produk. Dibutuhkan kecakapan manajemen dalam kegiatan ini, terutama pengetahuan karakteristik dari jenis padi yang ditanam. “Carane mepe, carane nyelep karo carane mbungkus kui yo butuh jajalan ben gak ambyar”, terang saya, setelah nyeruput kopi.

Tahapan tersebut berkaitan dengan teknis penanganan pasca panen. Banyak petani yang kesulitan dengan proses ini karena sudah terbiasa pasca panen langsung dijual kepada tengkulak. Kebanyakan petani pinginnya instan, menanam padi dan panen uang. Budaya semacam itu sulit untuk dirubah, maklum semua kebutuhan petani digantungkan pada hasil tanamannya.

Ketiga, pemasaran, kegiatan ini meliputi pengiklanan dan penjualan hasil pertanian baik tanaman pangan maupun hortikultura. Hal yang paling penting adalah memahamkan konsumen terkait kualitas produk yang kita tawarkan. Minimal harus paham proses pengelolaan dari pola budidaya pertanian organik dan penanganan pasca panen. “Adol produk kui perlu belajar ngilmu cocot kencono”, terang saya. “Meh imbang karo nggombali cewek kang?” Sahut salah satu sahabat saya dengan nada bercanda. “Iyolah, nek tekan saiki awakmu sik jomblo berarti ngilmumu sik amatir”, timpal saya.

Maaf, saya harus menganalogikannya dengan persoalan cinta, karena masih banyak sahabat-sahabat saya yang menyandang gelar mahasiswa. Dimana masa-masa itu lebih dekat dengan pencarian pendamping hidup dari pada pencarian jati diri. Hahahhaa.

Nah, dari ketiga cakupan kegiatan tersebut kira-kira sudah ada gambaran kan mana yang bisa dilakukan meski masih sibuk kuliah? Ya, pemasaran tentunya. Di era revolusi industri 4.0 ini semuanya bisa dilakukan dengan mudah, siapapun asalkan mempunyai gadget bisa memasarkan produk.

Syukur-syukur bisa menambah penghasilan untuk biaya kuliah dan tidak malu lagi jika ketemu sang mantan. Dari pada selalu posting status galau dan lebai di media sosial mendingan diselingi posting produk yang bisa menghasilkan biar tidak terkesan tenggelam dalam kejombloan.

Iklan