Gambar: Jopwell dari Pexels

Harusnya Menjadi Gerakan Budaya, Bukan Sekadar New Normal

Perbincangan masyarakat Indonesia terkait New Normal atau kenormalan baru semakin ramai ditengah meluasnya pandemi Virus Covid-19. Pada fase tersebut, sarana ruang publik dibuka dengan tetap mematuhi peraturan yang berlaku. Bukan berarti bisa seenaknya saja. Wacana New Normal yang digagas pemerintah bertujuan untuk mengoptimalkan peran Negara sesuai fungsi dan wewenangnya. Saat ini dapat kita lihat bersama kondisi Negara yang sudah tidak beraturan akibat pandemi virus Corona, terutama dalam sektor sosial-ekonomi.

Sebelumnya, dalam menghadapi wabah virus corona, pemerintah menghimbau masyarakat untuk tetap di rumah. Namun hal itu hanya berjalan beberapa minggu saja. Banyak dari masyarakat yang awalnya patuh untuk tetap di rumah dan jaga jarak, kini tidak lagi. Masyarakat banyak yang keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah demi keluarga di rumah. Hal tersebut dikarenakan Negara dan Pemerintah tidak mampu meng-cover kebutuhan ekonomi, khususnya untuk masyarakat yang kurang mampu. Dalam kasus ini, salah satunya dengan adanya beberapa jenis bantuan yang seringkali ditemui tidak tepat sasaran dan justru mengecewakan.

Di daerah saya misalnya, hampir setengah dari jumlah Bantuan Sosial (Bansos) tidak terbagi secara merata kepada warga. Pun masih banyak yang tidak tepat sasaran, bahkan dipolitisasi. Hanya memunculkan kecemburuan sosial dan cek-cok soal bantuan. Oleh karenanya perlu adanya sistem kehidupan baru. Sebab, sangat tidak mungkin juga pemerintah akan terus menghabiskan anggaran hanya untuk sesuatu yang tidak pasti.

New Normal sebagai solusi?

Sebelum adanya wacana tentang kenormalan baru, publik sempat dihebohkan dengan istilah Herd Immunity yang beredar di berbagai media sosial, Twitter, Instagram, dan WhatsApp. Parahnya, ada informasi yang justru menakuti, khususnya bagi golongan kaum rentan. Dalam informasinya mengatakan bahwa Herd Immunity adalah kondisi dimana masyarakat dibiarkan hidup berdampingan dengan virus dan berbekal kekuatan daya imun, “siapa yang punya imun kuat, dia yang bertahan hidup”. Cukup mengerikan.  Persoalan tersebut akhirnya selesai setelah pemerintah membantah terkait penerapan Herd Immunity, dan mengeluarkan wacana baru yaitu sistem kehidupan New Normal.

New Normal merupakan kondisi baru kehidupan masyarakat yang mau tidak mau harus dilalui. Selain untuk menekan rendah tingkat kebobrokan keuangan Negara, New Normal juga bertujuan menghidupkan kembali kondisi sosial-ekonomi masyarakat.

Berkaca pada qaidah fiqih, idza ta’aradha mafsadatani ru’iya a’dhamuhuma dhararan bi irtikabi akhaffihimina, “Jika ada dua keburukan (kerusakan) bertentangan, maka dijaga keburukan yang paling besar bahayanya dengan memilih keburukan yang paling ringan keburukannya”. Maka kebijakan untuk menerapkan New Normal adalah sebuah tindakan yang tepat. Karena kondisi Negara sedang terguncang dan apabila seluruh kegiatan masyarakat terhenti secara berkelanjutan, maka akan berakibat krisis moneter dan membahayakan keselamatan Negara. Karena bagaimanapun juga, tidak mungkin kita akan terus menerus terjebak dalam kondisi seperti saat ini, yang hanya mengandalkan teknologi sebagai akses komunikasi dan bersosial, sekalipun sudah memasuki Era Industri 4.0.

New Normal merupakan babak baru kehidupan masyarakat Indonesia yang harus segera dimulai setelah sekian lama terkurung dalam keadaan suram akibat pandemi. Namun, meski begitu, Kesadaran masyarakat adalah kunci utama untuk suksesi Kenormalan baru.

Harusnya bukan sekadar New Normal

Melihat kebiasaan masyarakat Indonesia saat ini, tentu New Normal saja tidak akan bisa mendamaikan kondisi secara optimal. Kesadaran masyarakat akan kesehatan dan kebersihan masih terbilang rendah. Sesuai data Riset Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2018, hanya terdapat 20% dari total masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebersihan dan kesehatan. Pun masih banyak masyarakat yang didapati tidak memakai masker meski berada di tempat umum saat pandemi.

Jika hanya mengandalkan protokol Kesehatan yang tertera dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi, tidak ada jaminan bahwa kondisi sosial akan membaik dan Covid-19 akan mereda tanpa didukung oleh kesadaran masyarakat.

Ketika langkah Top-down dianggap kurang maksimal, Pemerintah harus bergerak cepat dan berupaya keras untuk mencari solusi terbaik. Dapat dengan terlebih dahulu meningkatkan kesadaran masyarakat menuju apa yang oleh Paulo Freire disebut “Kesadaran kritis”. Dalam hal ini, pendekatan partisipatif atau Bottom-up bisa menjadi trobosan strategi, dan dapat dilaksanakan melalui birokrasi terkecil seperti Pemerintah Desa ataupun Rukun Tetangga (RT).

Menuju Gerakan Budaya

Gerakan perubahan budaya terbesar pernah terjadi pada akhir abad pertengahan, yang selanjutnya sering disebut Abad Renaissance. Renaissance (Bahasa Prancis) atau dalam Bahasa Indonesia disebut “Kelahiran Kembali” muncul pertama kali di Eropa yang menurut konsensus terjadi selama kurang lebih 4 abad secara bertahap. Dimulai dari pertengahan abad ke-14 di Italia, dan menyebar luas ke seluruh Eropa sampai pada abad ke-17.

Renaissance sendiri merupakan sebuah gerakan budaya menuju Zaman Modern, dimana setiap individu mempunyai kebebasan dalam bertindak. Setelah sebelumnya semua tindakan manusia didominasi oleh gereja dan dogma agama yang mengikat. Dengan semangat gerakan Renaissance yang terus berkembang, tatanan kultur masyarakat terus berubah menuju kemajuan.

Menurut Burckhardt, Renaissance bukan sekedar kelahiran kembali kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Tetapi merupakan kebangkitan kesadaran manusia sebagai individu yang rasional, sebagai pribadi yang Otonom, yang mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan bertanggungjawab. Manusia Renaissance harus berani mengunggulkan dirinya sendiri, mengutamakan kemampuannya dalam berfikir dan bertindak serta bertanggung jawab bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Jika dibandingkan dengan Renaissance, New Normal masih terlalu sempit untuk dapat memprakarsai kehidupan babak baru. Tanggungjawab individu terhadap dirinya sendiri dan terhadap sosial sangat dibutuhkan secara sustainable. Karenanya kegiatan dengan pola baru yang bagus akan lebih baik jika dibudayakan, sekaligus untuk memupuk kesadaran masyarakat akan rasa sosial kemanusiaan yang tinggi.

Oleh: Muhammad Iqbal

Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Al-Hidayah Sondriyan Majasem Kendal Ngawi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*