Gambar Ilustrasi Dukun

Jampi-jampi, Kisah Mbah Dukun Suwuk yang Naik Daun

Orang Islam percaya bahwa Tuhan punya cara tak terbatas untuk memaksa hamba-Nya masuk ke dalam sebuah situasi apapun itu karena Dia memiliki nama al-Jabbar (Yang Maha memaksa) Yang dirasa menjadi persoalan adalah jika seseorang ditempatkan dalam kondisi yang sulit atau membingungkan dan tak sesuai dengan keinginannya sendiri. Tetapi di sinilah ujiannya, sebab orang harus menjaga prasangka baik bahwa Tuhan memaksa hamba-Nya itu agar ia bergerak ke arah kebaikan. Ini ada contoh bagaimana seseorang yang kuper bin katrok, yang dulu cuma tahu wilayah Karas, Sedan, dan sekitarnya, dipaksa Tuhan untuk menjadi gaul dan metropolis.

Bertahun-tahun lalu seorang santri tak kenal komputer, apalagi internet. Dunianya hanya seputar desanya dan seputar alam goib (dia bolehlah disebut semacam dukun wanna-be yang lumayan gaul dengan jin dan demit ) . Tetapi ketika sowan ke gurunya, ia disuruh memasuki dunia internet. “Dolanan Facebook.” Sekarang bayangkan seperti apa mumetnya murid ini. Komputer ga pernah pegang. Ga paham internet itu makhluk apa. Mengetik juga tak pernah. Yang lebih celaka, kala itu fitur-fitur di internet adalah menggunakan bahasa Inggris, sedangkan dia cuma tahu “oh yes oh no.” Tetapi sebagai santri teladan, dia berusaha mematuhi dawuh. Ini seakan-akan dia dipaksa berjihad mencari ilmu pengetahuan baru. Ringkas cerita, setelah bersusah-payah, dia berhasil mendapatkan perangkatnya dengan bantuan kawan-kawannya. Muncul persoalan baru: Internetan pakai apa? Di daerahnya yang pelosok itu sinyalnya bosok.

Persoalan bisa diatasi lagi setelah diberi pelajaran tentang kaifiyyat internetan secara halal wal thoyyib dengan paket-paketan internet. Tetapi ini juga menimbulkan masalah. Dia masyhur ke-bokek-annya. Beli pakai apa? Ilmu dukunnya belum sampai taraf mampu mengubah daun menjadi duit. Lagi-lagi setelah berjihad ke sana ke mari, dia sukses sedikit demi sedikit mengelola kuotanya. Mulailah dia rajin menulis tentang agama. Banyak dalil dia tulis pada awalnya, dengan bahasa yang terasa “embuh banget” bagi orang yang tak biasa mondok. Ini masalah lagi. Pelan-pelan dia mulai belajar menata bahasa. Bahasa kaum santri tentu beda dengan bahasa kaum facebook yang lebih heterogen (saya hampir yakin beliau juga gak paham apa itu istilah heterogen ini).

Alhamdulillah, dengan modal nekat dan tekun, bahasanya mulai lumayan nggenah bagi kaum facebook, meski belajarnya selalu melalui proses pembullyan. Meski sudah rada gaul, sisa-sisa keantikannya masih ada. Misale, dia ngaku akun FB-ya telah disuwuk passwordnya, biar tidak dibobol. Bayangkan, Akun FB aja disuwuk! Luar biasa.

Dari awal “grothal-grathul” sampai “lenyeh” facebook-an, dia mulai lebih gaul dan kenal banyak orang. Koleganya bertambah, ketenarannya juga bertambah. Pernah ada masa-masa dia menulis status seperti orang ngudud. sehari rata-rata 6-10 kali status. Di sela-sela statusnya yang kadang aneh kadang njelehi, kadang-kadang nyempil juga curhatan tentang ke-bokek-annya atau ketidakmampuannya berbahasa inggris. Sialnya, para pembaca sepertinya tidak menunjukkan rasa simpati dan tak ada komentar bernada belas kasihan. Tetapi diam-diam di belakang banyak yang membantunya, walau di beranda facebook orang-orang itu membully-nya dengan bahagia. Misalnya bu nyai Android Iffah Hannah yang bahagia jika dukun wanna-be ini curhat masalah bahasanya.

Lebih dari tujuh tahun telah berlalu, dan “paksaan” dari Tuhan melalui dawuh gurunya mulai menampakkan hasilnya. Selain mulai dikenal keilmuannya, dia juga mulai menjadi entrepreneur madu dan jamu suwuk yang lumayan naik daun. Paling tidak, sekarang dia sudah bisa pamer duit, meski sampai sekarang dia masih kesulitan untuk sedekah kepada teman-teman dekatnya, karena setiap kali sedekah, malah temannya membalikkan situasi menjadi pihak yang memberi sedekah. Dalam kasus siasat sedekah ini, dia masih belum piawai. Mungkin masih perlu jihad lagi belajar siasat sedekah kepada kompresor Denmas Picoez. Tapi itu bisa dimaklumi karena mbah dukun jamu lebih berpengalaman 19 tahun kesulitan finansial daripada kelebihan finansial. Hanya saja, kekurangan ini sesungguhnya relatif. Dalam masa kurang duit, sekali lagi asma Yang Maha memaksa tampak dalam kehidupan mbah jamu yang tidak pernah tampak pakai celana ini. Allah tahu dia bokek, tapi Dia punya cara untuk memaksanya datang ke tanah suci via umroh. Mbuh ketemu pirang perkara, tahu-tahu dia berangkat umrah, dan itupun malah dapat laba duit pula. Aku yang denger kisahnya kan jadi kezel.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana tajalli al-Jabbar bekerja dalam keseharian kita. Setiap orang pasti mengalami paksaan dari Tuhan untuk bergerak ke arah yang lebih baik, entah disadarinya atau tidak. Karena itu selalu dianjurkan untuk selalu berprasangka baik kepada Tuhan.

Wa Allahu a’lam bi muradihi.

Penulis : Basir Mustofa

Editor : Ahmad Qudori

Iklan