Kemerdekaan Dalam Belajar

Oleh : Basir Mustafa

Nadiem Makarim:”Merdeka Belajar adalah Kemerdekaan Berpikir”.

Lalu pertanyaan selanjutnya bagaimana memwujudkan hal itu?

Kutipan di atas kembali mengingatkan kepada orang tua dan pendidik di negeri ini yang sudah 74 tahun merdeka, dengan satu kalimat saya mau tanya,

“Apakah anak-anak kita sudah merdeka belajar?”

“Apakah selama ini kita lebih cenderung menjejalkan sebuah konsep pemikiran kita ke anak-anak atau sebaliknya kita lebih sering mendengarkan suara anak?”

Menurut Ki Hajar Dewantara, “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam : berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri”

Berdiri Sendiri

Kemerdekaan belajar berarti mengakui anak sebagai subyek belajar, bukan objek. Anaklah yang menentukan untuk apa dia belajar dan mempelajari sesuatu, anak memiliki kewenangan dan inisiatif dalam belajar.

Tidak bergantung Kepada Orang Lain
Secara alamiah kehidupan sehari-hari anak mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi adalah proses aktivitas belajar. Anak-anak mencoba mencari jawaban dari rasa ingin tahu mereka yang tinggi, tanpa peduli ada orang dewasa di sekitarnya atau tidak. Anak-anak adalah pembelajar sejati.

Dapat Mengatur Diri Sendiri

Anak mampu mengelola diri akan kebutuhan belajarnya. Memilih cara dan media belajar yang sesuai dengan gaya belajarnya serta kondisi lingkungan sekitar di mana ia dibesarkan. Jadwal belajar anak tidak ditentukan dan dibuat oleh orang dewasa di sekitarnya, baik itu guru di sekolah maupun orangtua di rumah. Anak yang berada dalam kemerdekaan belajar bisa mengatur jadwal belajarnya untuk mencapai tujuan belajar masing-masing.

Lahir Dan Tumbuh Merdeka

Apakah semua anak lahir merdeka? Semua pasti akan menganggukkan kepala dan menjawab dengan keras “iya”. Sejak lahir, anak-anak sudah memiliki empat hal fitrah dalam belajar yaitu:

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
  2. Memiliki daya imajinasi kreativitas yang tinggi (creative imagination)
  3. Memiliki kemampuan berpikir untuk menemukan suatu pengetahuan
  4. Memiliki akhlak mulia (noble attitude) terhadap proses penemuan ilmu.

Keempat hal tersebut terbukti sejak mereka bisa berjalan dan berbicara, anak-anak tak henti-hentinya menanyakan segala macam yang memantik rasa ingin tahu mereka ke orang dewasa, bahkan tak jarang dari mereka mengulang-ulang pertanyaan tanpa henti.

Tidak sengaja Tiba-tiba anak bisa membuat semua benda yang ada di sekitarnya menjadi alat permainan yang menggembirakan karena berkolaborasi dengan imajinasi anak-anak yang tinggi. Keseharian anak-anak menjadi sesuatu yang dinamis, karena selalu diwarnai rasa ingin tahunya “Aha! Moment”, teriakan “Aha!Aku punya ide” “Ooo begitu” “Wow! Hebat! Aku pasti bisa” ini ada sebuah ide atau titik temu bagi mereka.

Pertanyaan berikutnya, “Apakah ketika masuk usia sekolah, kemerdekaan belajar anak masih terawat dengan baik?”

Di Rumah

  1. Siapkan buku kasih tema “Rasa ingin tahuku” untuk masing-masing anak.Bukalah selalu obrolan ayah bunda dan anak-anak dengan mengulik rasa ingin tahu mereka. Tanyakanlah “Apa yang ingin kalian ketahui pagi ini?”, izinkanlah anak-anak untuk menyampaikan suara mereka dan rasa ingin tahu mereka. Bagi yang sudah mampu menulis, silakan menulis di buku masing-masing. Bagi yang belum bisa menulis, mereka bisa mengucapkannya langsung.
  2. Apabila rasa ingin tahu anak muncul sewaktu-waktu, siapkanlah satu kertas flipchart dan spidol di salah satu dinding rumah kita, agar kita bisa mencatatnya kapanpun.(penting).
  3. Ajak anak-anak untuk mencari jawaban dari rasa ingin tahu tersebut dari berbagai sumber media belajar yang ada. Biarkanlah mereka menemukan jawaban sebanyak mungkin, sehingga membuat anak menemukan ribuan pengetahuan dari satu pertanyaan yang ayah bunda lontarkan. Tugas orang tua adalah memicu anak untuk terus mencari jawaban, bukan memberikan jawaban versi orang tua sebagai jawaban yang paling benar. Ingat, Mendidik itu bukan membuat anak bisa menjawab 1000 pertanyaan, namun membuat anak bertanya 1 pertanyaan yang membawanya menemukan 1000 pengetahuan.
  4. Dengarkan suara anak, apa saja yang mereka temukan selama proses mencari sebuah jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dari diri mereka.
  5. Ulangi lagi prosesnya apabila muncul rasa ingin tahu dari setiap proses petualangan mencari ilmu yang dijalani oleh anak-anak.

Di Sekolah

  1. Buka pagi hari di sekolah dengan kegiatan yang menyenangkan misal dengan menulis jurnal pagi yang akan menjadi media suara anak di sekolah, atau membuka forum-forum dialog antara guru dan anak dalam kondisi yang rileks dan tenang.
  2. Ubah pola pikir guru sebagai orang yang serba tahu dan ingin mentransfer semua ilmunya ke kepala anak-anak. Guru seyogyanya memfasilitasi proses belajar anak, sehingga anak-anak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul. Ingat, Menjadi guru itu bukan mengajar, tetapi menjadi teman belajar.
  3. Ajak siswa untuk membuat tujuan belajarnya, apa yang ingin dicapainya, ajak mereka diskusi satu kelas. Kemudian rencanakan jadwal kelas yang disepakati bersama untuk mencapai tujuan yang disepamati bersama.
  4. Gunakan konsep “the power of question” saat menempati posisi menjadi guru. Jangan banyak menjelaskan, banyaklah membuat pertanyaan. Begitu juga sebaliknya ketika anak-anak diberi kesempatan mempresentasikan hasil belajarnya, saat itulah posisi guru bisa berubah peran menjadi murid. Sehingga konsep semua murid, semua guru akan berjalan dengan baik di dalam kemerdekaan belajar.
  5. Ulangi sekali lagi prosesnya setiap kali anak-anak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang ada, dan muncul lagi rasa ingin tahu.

Kita hidup di negeri yang merdeka, tetapi tidak banyak anak-anak Indonesia yang merasakan bagaimana rasanya merdeka dalam belajar. Maka apabila saya diizinkan untuk menambahkan hak anak, maka saya mengusulkan kemerdekaan belajar itu adalah hak setiap anak yang harus diperjuangkan.

(bashir/aq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*