Memaknai Puasa Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

NgawiKita – Menurut kyai kampoeng, Allahyarham Samsul Hadi dahulu bulan Ramadhan menjadi bulan khas bagi penduduk Dusun Jatisari Pada bulan ini, hampir semua penduduk menghentikan aktivitas ‘duniawi’ mereka. Yang berdagang, berhenti berdagang; yang tukang, berhenti bertukang, dan seterusnya. Paling hanya yang berprofesi sebagai petani atau pedagang kebutuhan sehari-hari saja yang masih beraktivitas; itu pun dengan sebisa mungkin mengurangi intensitasnya.

Pada bulan ini penduduk lebih memfokuskan kegiatannya untuk beribadah: sholat, membaca Al Qur’an, mengaji kitab, i’tikaf dan seterusnya; alhasil semua kegiatan yang dianggap lebih mendekatkan pada Allah. Mungkin ini tidak hanya berlangsung di Jatisari, tapi banyak tempat lain yang kental keIslamannya. Mungkin juga tidak secara komunal, tapi personal.

Ramadhan menjadi bulan ‘bertapa’, melepaskan diri untuk sementara dari rutinitas hidup selama sebelas bulan. Untuk biaya hidup selama cuti sebulan ini, mereka sudah mengumpulkannya selama sebelas bulan lainnya. Kalau memakai istilah yang sekarang sedang populer: selama sebulan penuh mereka dengan sadar sengaja mengarantina diri sendiri dari sentuhan ‘duniawi’.

Seperti shaum, puasa di bulan Ramadhan; saat memulai, kita tahu persis kapan berbuka; saat mulai mengarantina diri selama Ramadhan pun orang tahu kapan akan bertemu Idul Fitri. Sehingga kesabaran yang terbangun selama melakukannya pun dilandasi dengan kesadaran adanya kepastian batas akhirnya.

Sudah tentu segala sesuatu pasti akan sampai pada batas akhir, yang jadi masalah adalah: ketika tidak tahu kepastian batas akhirnya; apakah kesabaran kita tetap akan terjaga? Kesabaran orang yang tidak makan karena berpuasa; tentu berbeda dengan kesabaran orang yang terpaksa berpuasa tidak makan karena tak memiliki sesuatu pun untuk dimakan misalnya. Yang pertama, tahu batas akhirnya; yang kedua tak tahu kapan akhirnya.

Tak mengherankan bila kita merujuk ke hadits, Rasulullah menyebut puasa sebagai separuh dari kesabaran. Disebut separuh, karena kesabaran penuh atau kesabaran sejati justru baru akan tampak ketika orang menghadapi sesuatu, apa pun itu, tanpa pernah tahu dengan pasti kapan batas akhirnya. Apakah disaat kelaparan, ia tetap memelihara kesabaran meski tanpa tahu kapan akan punya sesuatu untuk dimakan misalnya?

Dari analogi ini, banyak orang alim, lebih-lebih dari kalangan sufi, menyimpulkan bahwa ibadah-ibadah yang selama ini diwajib atau sunnahkan pada manusia, pada dasarnya hanyalah metode latihan, training, riyadhoh; yaitu paket laku yang dirancang untuk mempersiapkan orang agar mampu dengan berhasil dan selamat memasuki situasi kehidupan yang akan dijalaninya.

Meski tidak tepat sama, dan dalam skala yang jauh lebih terbatas; prinsip latihan, training, atau riyadhoh ini pun sudah lama diadopsi oleh peradaban manusia. Hampir semua profesi menerapkannya. Semakin rumit dan beresiko suatu profesi, akan semakin rumit dan berat pula pelatihannya. Meski demikian, serumit dan seberat apa pun pelatihan; penilaian sebenarnya baru muncul saat orang sudah terjun di lapangan.

Nah, hari ini wabah Covid-19 memaksa kita semua mengarantina diri sendiri, tanpa pernah tahu kapan sebenarnya batas akhirnya. Kita dipaksa berpuasa dari sangat banyak hal yang sebelumnya terlanjur menjadi kebiasaan sehari-hari.

Bukan hanya itu, bahkan mungkin kita juga harus mulai berlatih hidup dengan kebiasaan baru karena boleh jadi setelah sengatan Covid-19 ini, wajah peradaban akan berubah dan kebiasaan baru akan terbentuk.

Lebih jauh, sengatan Covid-19 juga akan sepenuhnya mengubah pola ekonomi-politik-sosial-budaya; yang mungkin tak terbayang sebelumnya. Alhasil, kita sedang berada tepat di tengah perubahan besar-besaran, di tengah ketidak-pastian hampir di semua bidang; tanpa pernah tahu kapan semua kembali menemukan keseimbangannya kembali.

Covid-19 adalah salah satu kawah condrodimuko dimana kesabaran kita, baik sebagai pribadi mau pun sebagai ummat, sedang diuji langsung oleh Allah. Apakah latihan, training, atau riyadhoh kita gagal atau berhasil? Apakah kita hanya berhenti di separuh kesabaran atau mampu menyempurnakannya menjadi kesabaran penuh? Dan jangan pernah lupa, innallaha ma’ashobirin, Allah bersama mereka yang sabar.

Foto : Basir Mustofa

(basir/aq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*