Meneladani  Spirit Aisyah Ummul Mu’minin Dalam  Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam

Aisyah romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama
Hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah
Aisyah, sungguh manis, oh, sirah kasih cintamu
Bukan persis novel  mula benci jadi rindu
Kau istri tercinta, ya Aisyah Khumaira ( Aisyah istri Rasulullah )

Diatas merupakan penggalan lirik lagu  Aisyah yang sempat booming beberapa bulan lalu , lagu tersebut di ciptakan oleh Razif bin Zainuddin member Projector Band asal Malaysia yang kemudian menjadi viral dan di cover oleh puluhan penyanyi Indonesia. Namun terlepas dari lagu tersebut, team ngawikita.com mencoba meringkas kisah dan teladan yang seharusnya diteladani oleh para kaum perempuan.

Sayyidatina Aisyah Rodiyallahu Anha (RHA) , sekedar menyebut namanya saja tentu orang se – antero jagad sudah faham siapa beliau, namanya begitu masyhur terutama dikalangan perempuan muslimah dan kerap menjadi topik perbincangan dikalangan muslimah di semua zaman. Siti Aisyah merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW.

Aisyah merupakan putri sahabat Abu Bakar Ash – shidiq. Beliau  lahir pada bulan Syawal tahun kelima kenabian atau kesembilan sebelum hijriah bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 Masehi.

Aisyah wafat pada Senin malam, 17 Ramadan 58 Hijriyah atau 13 Juli 678 Masehi, tepat hari ini 1342 tahun silam, saat melaksanakan salat sunah witir. Demikian menurut pendapat mayoritas ulama. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ia wafat pada tahun 57 H dalam usia 63 tahun dan sekian bulan.

Aisyah juga salah satu figur perempuan progressif di masanya. Selain mendapat gelar Ummul Mukminin( ibunya orang orang muslim ) dia merupakan tokoh sentral dalam perjuangan ilmu pengetahuan Islam pasca wafatnya Rasululullah SAW.

Namun hal ini kurang di fahami oleh generasi perempuan di era millenial. Setelah melakukan survey, 2 dari 10 perempuan di salah satu organisasi kampus  yang kita jajaki pendapatnya mampu menjelaskan keteladanan Aisyah dalam memperjuangkan Keilmuan Islam, 8 sisanya menjelaskan tentang sisi estetika ,kecantikan dan kisah romantisme  cinta Aisyah. Hal ini menjadi miris ketika perempuan melihat figur ummul mukminin hanya sebatas kecantikan dan kisah cintanya saja, padahal kiprah Aisyah dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam tidak diragukan diantaranya sebagai berikut :

1. Intelektual Muslim Dari Kalangan Perempuan

Aisyah merupakan tokoh rujukan dan guru dari berbagai tokoh muslim  diantaranya: ” 1. Urwah ibn Al – Zubair ibn Al- Awwam Al Asadi ,2.Ubaidillah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud , 3.Salim Ibn Abdillah Ibn Umar , 4.Sulaiman ibn  Yasar , 5.Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit , 6. Qosim ibn Muhammad ibn Abi Bakr”(Team Karya Ilmiah  Purnasiswa MHM Lirboyo,2006,Sejarah Tasyri’ Islam.190: FPPI).

Keenam murid yang pernah belajar pada Aisyah tersebut merupakan 6 dari 7 pakar Fiqh Madinah yang terkenal pada zaman dinsati Umayyah. Suatu keharusan bagi kaum perempuan progressif masa kini untuk meneladani Aisyah dalam hal Ilmu pengetahuan.

2.Aktivis  Perempuan Muslim

Aisyah merupakan tokoh sentral yang bersikap tegas menuntut Khalifah Ali Bin Abi Tholib untuk segera  mengusut pembunuhan Sahabat Utsman Bin Affan.
Seperti yang diketahui Ali bin Abi Tholib merupakan Khalifah pke – 4 pasca wafatnya Usman bin Affan. Warga madinah dan pasukan dari Mesir , Kufah, Basrah bersepakat memilih Ali bin Abi Tholib sebagai pengganti Usman. Sebagiai Khalifah Ali mewarisi pemerintahan yang kacau akibat ketegangan politik pasca tragedi pembunuhan Usman bin Affan. Ali berjanji akan mengusut kasus pembunuhan Usman di Pengadilan Negara setelah situasi politik mereda, Ali bermaksud untuk menyatukan negara lebih dahulu. Sebab itu, Ali mendesak Marwan dan Mu’awiyah untuk segera membaiatnya. Namun disisi lain, keluarga Bani Umayyah yang menuntut untuk segera mengusut  siapa pembunuh Utsman. demikian juga diajukan oleh tokoh netral seperti Aisyah, Al- Zubair dan Thalhah.

Muawiyah menolak membaiat Ali sebelum pembunuh Usman diungkap dan dihukum. Mendapat penolakan ini, Ali berencana menggempur Muawiyah namun rencana itu mendapat protes dari sejumlah sahabat seperti Mughirah, Sa’d ibn Abi Waqqas, Abdullah ibn Umar dan Ibn Abbas. Mereka menyarankan agar menunda rencananya menyerang Muawiyah. Tapi Ali bersikeras.

Langkah ini mengundang kritik dan curiga dari berbagai kelompok Aisyah, Al – Zubair  dan Thalhah, lalu memimpin 30 ribu pasukan dari Mekah. Pasukan Ali yang sebelumnya diarahkan ke Syam terpaksa dibelokkan untuk menghadapi pasukan Aisyah. Sebelum pasukan muslim ini bertemu sempat diadakan pertemuan khusus antar kedua utusan. Dalam pertemuan hampir mencapai perdamaian. Hanya saja, di tengah perundingan timbul keributan dari orang orang yang ikut terlibat dalam tragedi pembunuhan Usman, mereka menyusup dalam pasukan keduanya. Mereka khawatir jika perdamaian dilaksanakan, maka pengusutan atas diri merekam segera dilakukan karena kondisi politik negara yang akan damai.

Maka terjadilah peristiwa perang antar umat Islam yang dikenal dengan perang Jamal antara pasukan Ali bin Abi Tholib dan pasukan yang dipimpin Aisyah.
Menurut Ibn Bakram Al – Mujib Muhammad ” Wajib bagi kita untuk tidak mempermasalahkan pertikaian dan peperangan yang terjadi antar sahabat. Juga wajib menghargai hasil ijtihad mereka serta menetapkan pahala bagi mereka. Sebab, apa yang mereka perdebatkan merupakan permasalahan furu’iyyah yang memang memiliki ruang bagi ulama untuk menyumbangkan kreatifitas ijtihad mereka “( Team Karya Ilmiah  Purnasiswa MHM Lirboyo,2006,Sejarah Tasyri’ Islam.124: FPPI).

Sebagaimana yang diketahui konflik antara Ali bin Abi Tholib dan pihak yang kontra dengannya, berawal dari belum sedianya Ali mengadili pembunuh Utsman Ali menganggap bahwa pengusutan atas kasus tersebut ditangguhkan dahulu, sebab stabilitas politik belum sepenuhnya kondusif. Apalagi para pembunuh Utsman berjumlah banyak dan terorganisir. Sebaliknya, kalangan yang kontra dengan Ali yakni Aisyah , Thalhah dan Mu’awiyah menginginkan agar Ali segera tegas mengambil tindakan untuk melakukan pengusutan atas kasus tersebut. Dari sini tampak perbedaan sudut pandang masing – masing. Ali memandang menjaga stabilitas negara harus didahulukan sebaliknya kubu yang kontra memandang pengadilan atas pembunuhan Utsman juga harus di dahulukan.
Walllahu a’lam bishowab.

3. Cendekiawan Muslimah

Selain pernah memimpin pasukan, Aisyah juga sangat cerdas terutama dalam bidang hadist. Aisyah meriwayatkan 2.210 hadits. Sayyidah Aisyah adalah orang yang sangat cerdas, berwawasan luas, dan memiliki ingatan yang kuat. Atas semua itu, maka tidak heran jika ia meriwayatkan ribuan hadits dari Nabi Muhammad. Hadits sanad yang dimiliki Aisyah adalah 2.210 hadits. Bukhari dan Muslim sepakat terhadap 174 hadits dari riwayatnya. Bukhari sendiri meriwayatkan 54 hadits dari Aisyah, sementara Muslim 68 hadits diikutip dari : https://islam.nu.or.id/post/read/118959/tujuh-hal-tentang-sayyidah-aisyah-yang-jarang-diketahui

Disinilah sikap yang perlu di teladani dari Ummul mukminin Sayyidah Aisyah RHA, terutama bagi kalangan aktivis perempuan progressif masa kini.  Sayyidah Aisyah merupakan figur yang intelektual perempuan yang cerdas , progressif , dan sangat disiplin dengan ilmu pengetahuan. Betapa tidak , kenangan hidupnya bersama Rasulullah SAW mampu diingatnya dan diriwayatkan dalam hadist sebagai salah satu pegangan hukum umat muslim terutama dalam hukum – hukum yang berkaitan tentang fiqh perempuan.

Penulis merupakan Presiden tanpa pengawalan Paspampres Dan pernah nginep  di PP. Al – Amnaniyyah (Ali Sgp)

Iklan