Menggali Budaya Lokal dengan Perilaku Bertani Organik

Jabatan adalah amanat suara rakyat, hal itulah yang mendasari Agus Suwoko, S.Sos kepala desa Jatirejo kecamatan Kasreman kabupaten Ngawi untuk berbuat semaksimal mungkin mengurai dan bersama stakeholder terkait mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi warganya, terutama dalam bidang pertanian karena mayoritas profesi warganya adalah petani.

Kades yang akrab disapa dengan Mbah Jenggot ini mengajak warganya untuk bertanam dengan pola organik. Awalnya dia belajar tentang padi organik dengan sahabatnya di desa Ngompro yang lebih dulu mempraktekkan pola tanam organik. Dari bekal yang dipelajari itu dia praktek menanam sendiri dilahnnya selama dua musim dan menurutnya berhasil, tidak kalah dengan pola tanam konvensional.

“Saya belajar pertanian organik dari sahabat saya mbah Joko, Gadung, Ngompro. Tidak hanya belajar tetapi dia juga mendampingi terkait pola budidaya dan cara membuat pupuk cair untuk padi.” Ungkapnya.

Setelah dirasa berhasil dengan prakteknya, Kades yang sudah menjabat dua kali periode ini membuat program pelatihan pertanian organik di desanya dengan memanfaatkan Dana Desa pada tahun 2019. Dalam pelatihan itu diikuti sekitar 70 petani yang berlangsung selama 4 hari.

Para petani sangat antusias mengikuti pelatihan yang difasilitatori oleh tim dari SRI Organik Nuswantara tersebut, karena dalam pelatihan itu petani diajak untuk mengupas permasalahan pertanian sampai pada tingkat menyimpulkan bahwa sebenarnya yang menjadi kendala dalam pertanian terutama pada hasilnya adalah persoaalan tanah yang sudah rusak.

Sampai saat ini, tahun Mei 2020, musim tanam ke-2 petani yang mengikuti program pertanian organik sudah 29 orang dan luasan lahan mencapai 5,2 Hektar. Bahkan sudah berdiri komunitas organik yang siap menularkan ilmunya kepada petani yang lain di desa Jatirejo.

Berbekal ilmu dari pelatihan, kini komunitas organik Jatirejo sudah memiliki lumbung kompos dan lumbung pupuk cair yang dibuat dari bahan-bahan yang mudah didapat dari lingkungan sekitar. Keberadaan lumbung tersebut guna mencukupi kebutuhan kompos dan pupuk cair anggota maupun petani konvensional.

“Saat ini petani mulai sadar dan bisa merasakan manfaatnya belajar pertanian organik, apa lagi bersamaan dengan kebijakan pemerintah disektor pertanian yang memberlakukan pengurangan subsidi pupuk kimia sampai 50%.” Katanya.

Dengan berjalannya waktu dia berharap semua petani untuk kembali bertani dengan sistem ramah lingkungan dan berkelanjutan sesuai dengan budaya nenek moyang atau sedikit demi sedikit mengurangi pupuk kimia yang bisa merusak ekosistem tanah. Dengan pola tanam organik menurutnya, usur hara dalam tanah bisa kembali normal dan sehat serta bisa meningkatkan hasil pertanian di desa Jatirejo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*