Menyikapi Gaduhnya Agama

Segelas kopi menjadi terasa semakin pahit. Teh hangat yang menyuguhkan kehangatan pagi semakin mendidih ketika saya memperhatikan terus fenomena yang menyudutkan kelompok agama saling bertengkar satu sama lain. Fenomena beragama telah berupa menjadi hal yang dipertontonkan.

Pemikiran yang dulu sangat eksklusif kini hadir sangat nampak di media sosial. Informasi yang terus berkembang telah membalut iklim baru menjadi masyarakat yang gampang mudah tersulut emosi. Yah, kita yakini bahwa agama sangat rentan dibicarakan, karna hal ini mencangkup keyakinan.

Perbedaanya terlihat pada akses yang semakin mudah kita dapati, menurut salah satu kyai saya mengatakan bahwa kegaduhan dan keruwetan yang terjadi hari ini adalah bagi kita yang sibuk menganut idiologi yang memiliki esensi cukup memuaskan.

Lihatlah bagaimana faham Mu’tazilah, Jabariah serta faham Sunni dan Syiah sudah sangat larut dalam sejarah panjangnya. Dan kini hal tersebut muncul kembali bagai mengulang sejarah yang terpendam dan kemudian muncul dalam bentuk masyarakat milenial dalam atmosfir yang baru.

Apa karena ilmu yang kita fahami sebatas harapan untuk tujuan yang hanya sebatas impian kecil? sebagai modal investasi kekyaan dan iming-imingan momongan pekerjaan. Tak jarang sudut pandang kerdil ini mengakibatkan pola fikir yang terkonsepsi adalah bentuk sekularisasi dalam mempelajari ilmu agama.

Bagaimana pun faham tersebut telah tertanam pada diri kelompok masing masing yang kemudian sangat sukar untuk disatukan kecuali kita sadar betul bahwa keberagaman pemikiran dalam beragama merupakan keharusan, tinggal kita saja yang sadar betul bahwa akal sebagai berfikir dalam bersikap dewasa.

Oleh : Basir Mustofa

Editor : Ahmad Qudori

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*