Source Image : AyoSemarang.com

Negeri Disabilitas : Pemerintah Tuli Tidak Kuasa Melihat Jeritan Rakyat

ngawikita.com – Pandemi Covid-19 yang lagi berkembang hingga hari ini telah banyak memberikan ketakutan, kemiskinan dan kesenjangan dalam masyarakat. Segala upaya telah dibangun dan dipublikasikan ke publik dalam hal pencegahan dan himbauan tentang Pandemi Covid-19. Bukan hanya itu, bahkan upaya untuk meminimalisir penyebaran Pandemi ini Pemerintah telah membatasi aktivitas sehari-hari masyarakat dalam berinteraksi. Physical Distancing, Sistem Learning, Penyemprotan Disinfektan, Penyediaan posko-posko Covid-19, Lockdown Daerah dan relawan-relawan dihadirkan dan di intruksikan demi satu tujuan, yaitu agar berhentinya penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia.

Kasus yang berkembang hari ini mengenai kebijakan pemerintah dalam me-lockdown setiap daerah tampaknya menjadi tamparan keras kepada perekonomian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan seperti membunuh masyarakat secara perlahan. Bagaimana tidak, dampak dari kebijakan ini menghasilkan kesenjangan dan ketimpangan dalam masyarakat kecil maupun menengah yang dominan berdagang dan bekerja di sektor informal. Pemerintah semacam tuli dalam hal menyikapi aspirasi secara masyarakat bawah yang sedang menangis dan menjerit. Gimana nasib mereka tentang hal ini? bagaimana mereka bisa hidup jika sumber mata pencaharian mereka mati? apa yang seharusnya diterapkan dalam masalah ini?

Titik temu instruksi kebijakan dalam hal solusi untuk perekonomian masyarakat belum disosialisasikan. Peran Pemerintahan Pusat dan Daerah sebagai pokok acuan pembahasan kali ini diharapkan memberi peran yang strategis dalam menyikapi kesenjangan sosial yang terjadi dalam skala kecil maupun besar. Hal yang diperhatikan seharusnya pada pelaksanaan protokoler secara realistis. Cukup baik peran dan sikap yang dilakukan pemerintah dalam mengisi peran terhadap aspirasi masyarakat. Namun, pada pelaksanaan nya masih banyak kami temukan kesalahan yang dilakukan oleh para pelaksananya.

Terlintas dipikiran, apakah memang semua hal ini hanyalah permainan belaka? Atau, apakah pemerintah tuli atas jeritan masyarakat? Setelah dilakukan analisis teoritis secara mendalam, ternyata pemerintah hari ini kurang menekankan dari segi “keamanan dan pantauan” serius dalam pelaksanaan yang orientasinya kepada masyarakat yang adil,makmur,dan sejahtera. Pemerintah tuli seakan-akan melahirkan sebuah paradigma negative terhadap tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Negara. Apakah Pemerintah memang benar tuli dan pincang?

Pemerintah tuli yang kami asumsikan ini sebagai bentuk kekesalan kami terhadap penerapan yang diperankan. Di dalam pemerintahan yang demokratis, kita menemui banyak kesalahpahaman informasi yang di perlihatkan ke publik. Dari perbedaan pemikiran Pemerintah pusat dan daerah, bahkan dalam ruang lingkup pemerintahan pusat itu sendiri pun masih banyak kita lihat ketidak sepahaman dalam memberi intruksi kebijakan terhadap masyarakat. Semacam tidak ditemukan elektabilitas kepemimpinan dalam memberikan gambaran yang baik terhadap paradigma publik ke pemerintah sendiri. Seharusnya pemerintah harus melahirkan rasa kepercayaan yang besar terhadap masyarakat, bukan malah melahirkan suatu stigma yang sifatnya melahirkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap Negara.

Masyarakat butuh kepastian dan keadilan, masyarakat juga butuh makan dan kehidupan yang memadai. Jika dilakukan kebijakan dan penyuluhan bantuan, maka ketatkan juga sisi pengamanan dan pendataan di lapangan agar dapat menyeluruh dan terealisasikan secara efektif. Bukan malah dikapitalisasikan oleh sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab. Harapan kami sangatlah besar dalam menyikapi dan menganalisis segala peran pemerintah dalam masyarakat. Implementasi harus jelas dan tepat sasaran, agar masyarakat juga bisa tenang bukan malah melahirkan ketakutan yang mendalam. Kami berharap agar seluruh jajaran yang memiliki peran strategis dalam hal ini harus lebih fokus terhadap bidangnya masing-masing. Jangan sampai mencampuri yang bukan perannya dan malahan perannya sendiri terbengkalai.

Negeri Disabilitas laksana senja yang tidak memberikan ketenangan terhadap penikmatnya. Sebaliknya dengan peran pemerintah pusat dan daerah hari ini, semacam “mendengar” tapi pura-pura tuli, semacam merasakan tetapi bersifat “bodo amat”.

Penulis adalah Kader Rayon Ketonggo
Yang suka makan martabak dan juga bisa diajak Ngopi.

Penulis : Basir Mustafa

Editor : Ahmad Qudori

Iklan