New Normal yang Ternyata “New Sahin” Rakyat itu Sendiri

Perbincangan tentang new normal, kondisi baru yang muncul karena pandemi COVID-19 yang mau tidak mau harus kita jalani, akhir-akhir ini bisa dikatakan cukup sering. Di satu sisi ancaman kesehatan, risiko tertular COVID-19 pun masih tinggi. Di sisi lain, ekonomi yang merupakan tulang punggung kehidupan masyarakat ambruk karena pandemi COVID-19.

Kita seperti terjebak dalam sebuah keadaan serba salah. Menjalankan new normal salah,
tidak menjalankannya juga salah. Tetapi, selama kita menjadi rakyat Indonesia apa yang tidak serba salah? Sudah terlalu sering kita mengalami kondisi-kondisi seperti ini. Oleh karenanya kita harus menentukan pilihan. Apapun itu. Setiap resiko yang muncul kita harus siap menanggungnya. Mari kita timbang-timbang dulu risiko-risiko yang muncul.

Pertama, dari segi kesehatan. Pemerintah memang sudah melakukan berbagai upaya untuk menangai pandemi COVID-19 ini. Mulai dari himbauan-himbauan untuk menjaga kebersihan diri dan memakai masker sampai mempersilakan daerah-daerah tertentu yang persebaran
virusnya bisa dikatakan cukup tinggi untuk mengajukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Seperti yang kita tahu, upaya pemerintah itupun tidak sepenuhnya dijalani oleh masyarakat secara ideal. Alih-alih protokol penanganan COVID-19 berjalan, masyarakat malah berkerumun. Masyarakat bertindak seperti itu bukan tanpa alasan. Masyarakat butuh makan, butuh untuk menafkahi keluarganya. Kerja sehari-hari tetap dijalankan. Karena tidak ada jaminan yang pasti dari pemerintah. Berkaitan dengan protokol penanganan COVID-19, risikonya adalah lambat laun protokol penangan COVID-19 akan diabaikan secara berangsur-angsur. Karakter masyarakat kita memang seperti itu. Cepat melupakan sebuah keadaan, walaupun itu genting. Atau mungkin saja karena bebal.

Di sisi lain, ada pihak yang bisa dikatakan benar-benar terselamatkan, karena diubah cara berkegiatannya: pelajar dan mahasiswa. Dari bertatap muka di kelas menjadai LFH (Learn From Home) dengan metode yang sudah disepakati masing-masing lembaga pendidikan. Ada yang bertatap muka secara online, menggunakan aplikasi tertentu. Ada juga yang sekadar diberi tugas harian oleh guru atau dosen mereka. Selain itu profesi apa saja yang tetap maksimal dikerjakan di rumah. Salah satu contohnya, pegawai kantoran yang pekerjaannya bisa dikerjakan dengan laptop.

Untung saja kebijakan ini diberlakukan. Kalau tidak, kita tidak tahu akan jadi seperti apa negara ini. Mengingat mobilitas pelajar dan mahasiswa yang cukup tinggi ketika mereka aktif berkegiatan di sekolah ataupun di kampus. Termasuk dalam hal-hal yang tidak berhubungan dengan sekolah atau kampus, seperti nongkrong-nongkrong di warung kopi. Secara umum risiko pemberlakuan new normal, masih cukup riskan bagi kesehatan. Dengan upaya yang sudah ada saja kasus masih tinggi. Apalagi kalau dilonggarkan. Secara logis, bukankah akan semakin tinggi?

Kedua, dari segi ekonomi. Secara umum dampak ekonomi sudah terasa begitu nyata.
Banyak karyawan di-PHK. Banyak usaha-usaha yang tidak jalan. Orang-orang di sana-sini mengeluh, tidak punya penghasilan. Dan ini cukup membahayakan bagi tatanan kehidupan bermasyarakat kita.

Dampak ekonomi bisa merambat kepada hal-hal lain. Salah satunya kriminalitas. Ketika seseorang sudah tidak berpenghasilan lagi dan buntu dalam mencari nafkah sangat mungkin ia akan melakukan tindakan-tindakan kriminal. Seperti mencuri, menjarah, merampok.

Beberapa waktu yang lalu, setelah muncul kebijakan pelepasan napi, kriminalitas
meningkat. Banyak terjadi pencurian di mana-mana. Banyak kampung dan dusun membuat portal bagi jalan masuk kampung atau dusun mereka. Penjagaan keamanan juga ditingkatkan. Namun, saya kira tak hanya napi saja yang berbuat demikian. Ada juga yang sebelumnya bukan napi juga mencuri, karena keadaan kepepet. Kalau keadaan sulit seperti ini bertahan cukup lama, bukan tidak mungkin hal-hal semacam itu bertambah semakin parah.

Secara umum, resiko ekonomi yang merambat kepada hal-hal lain akan berkurang jika kegiatan ekonomi kembali dijalankan.

Kegiatan-kegiatan ekonomi yang sempat libur memang harus dimulai kembali. Secara
bertahap dan tidak gaduh. Hal yang membuat gaduh sekarang-sekarang ini adalah karena dimunculkannya narasi new normal kepada publik. Entah siapa yang memulainya. Sudah lumrah, apa yang rusak kita perbaiki. Ketika ekonomi rusak, kita pun akan memperbaiki.

Bagaimanapun saat ini kurva penularan virus belum turun. Fakta itu jangan diabaikan hanya karena alasan pemulihan ekonomi. Supaya tidak terjerembab kepada keadaan serba salah, harus dicari jalan tengahnya.

Untuk kegiatan yang benar-benar bisa dilakukan di rumah, seperti pelajar atau mahasiswa dan pekerja kantor yang kerjanya cukup berhadapan dengan laptop atau komputer, tetap dikerjakan di rumah saja. Termasuk juga kegiatan perdagangan yang tetap bisa berjalan secara maksimal dengan metode online.

Untuk hal-hal yang tidak bisa dikerjakan di rumah saja, pedagang yang tetap harus bekerja secara offline, seperti pedagang di pasar tradisional dan rumah makan konvensional dan lain-lain, harus mulai berkegiatan kembali dengan diberlakukan protokol penanganan COVID-19.

Agaknya kita harus belajar untuk bergerak dalam senyap. Sudah terbukti, dalam kasus ini, justru berisik-berisik seperti memunculkan narasi new normal itu sendirilah yang “new sahin” rakyat. Alih-alih membuat keadaan semakin baik, rakyat malah terjebak kepada perdebatan tanpa ujung tentang, “mana yang lebih baik, new normal atau tidak?”

Oleh: Basir Mustofa

Iklan