Pertanian Organik, Jalan Awal Menuju Kedaulatan Pangan

Wahyudi, petani yang mendedikasikan dirinya digerakan pertanian organik melalui pendampingan langsung terhadap petani di desa. Demi menularkan ilmunya dia rela menghabiskan waktunya untuk bercengkrama langsung dengan para petani dampingannya dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan jawa Timur.

Pria berkumis ini tak pernah membeli pupuk dan racun pabrikan dalam mengelola tanaman padinya bahkan dia juga bisa mencukupi kebutuhan sayur untuk keluarganya dengan menanam sayuran di pekarangan rumah. Menurutnya kedaulatan pangan bisa terlaksana dimulai daru kedaulatan pangan keluarga.

Dia memutuskan untuk berhenti sekolah pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Pada 1992 dia merantau ke Jakarta selama dua tahun menjadi pengamen dan pemulung. Pada 1995, dia berangkat ke Sumatera Barat menjadi supir backhoe.

Sampai pada tahun 2000 dia bertemu perempuan yang jago memasak dan memutuskan untuk menikah. Karena kebiasaanya ngopi di warung suatu sat dia mendengar keluh kesah para petani, mulai dari harga pupuk mahal, sulit bibit, biaya tanam meningkat dan harga gabah rendah. Dia lantas, menggarap sawah milik orangtua. Kala itu, masih pakai pupuk kimia. Dari praktik itu, dia membuktikan kebenaran curahan hati para petani di warung makan waktu itu.

Pada 2003, dia mulai belajar cara bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan dari Alex Sutaryadi di Ciamis, Jawa Barat. Lalu kembali ke Ngawi dan melakukan riset mandiri di sawahnya. Dari enam kali musim, hasilnya gagal. Dari situlah, dia berkesimpulan, ada yang salah dari praktik bertani yang dia lakukan. Dia menyimpulkan bahwa sumber masalah ada di tingkat kesuburan tanah. Apapun teknologinya, tidak bisa menyelesaikan persoalan tanah.

Wahyudi, adalah penggerak dan pemberdaya petani di beberapa wilayah ini telah sejak lama hanya mengkonsumsi makanan organik.

Indonesia, menurutnya, merupakan negara yang kaya tanaman pangan, tetapi terancam perusakan besar, terutama oleh produk kimia. Bagi Wahyudi, tanah yang kaya bahan mineral terdiri dari tanah liat, debu dan pasir yang seharusnya mengandung 5% bahan organik, kini tanah di Indonesia mayoritas hanya 0,01% kandungan organiknya.

Peran bahan organik salah satunya mendatangkan bakteri yang berfungsi menyuburkan tanah. Bakteri di tanah sudah tidak berfungsi selayaknya karena diracun oleh pupuk kimia pabrikan dan racun, padahal fungsinya mengurai. Ekologi tanah saat ini hanya sebatas rumah, tak ada penghuni, harusny ada bakteri dan plankton untuk menyuburkan tanah.

Bagi dia, memperbaiki tanah rusak karena pupuk kimia dan racun, ibarat mengobati orang sakit. Ketika sudah sembuh, selamanya akan baik bahkan lebih baik hasil panen. Bertani organik, bukan bujukan atau ajakan, tetapi proses kesadaran dari petani dan pemerintah.

Jadi proses penyadaran diri petani penting. Kalau petani mengeluh banyak penyakit tanaman, hasil produksi dikit, harga gabah murah, berarti petani belum menemukan kemandirian dan belum menemukan jatidiri.

Dia menawarkan solusi untuk beralih kepada pertanian organik, yang sudah dia lakukan adalah metode SRI organik. Bertani secara organik sebetulnya murah, kompos tak harus beli, bisa bikin. Sekilogram kompos, bisa simpan dua liter air. Pupuk kandang tinggal ambil sendiri, dari pada beli ternak, pemerintah subsidi pupuk pemerintah dialihkan ke subsidi ternak. Jadi swasembada beras dan daging.

Dari perilaku pertanian organik ini menurut Wahyudi, petani benar-benar bisa berdaulat. Mulai dari berdaulat benih, berdaulat kompos dan berdaulat pasar. Terakhir yang tidak kalah penting adalah berdaulat pangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*