Sapardi Djoko Damono, Berpuisi dengan Sederhana

Sapardi Djoko Damono adalah seorang sastrawan terkemuka kelahiran Surakarta. Sudah 50 tahun lebih Sapardi berkarya dan tentunya banyak karya yang sudah ia buat, yang membuat karyanya menarik dan digemari adalah kata-katanya yang sederhana.

Kesederhanaan dalam kata-kata membuat karya Sapardi digemari dikalangan sastrawan dan juga masyarakat umum. Bagi Supardi, sastra bukanlah hal-hal yang luhur dan muluk. Sastra adalah keseharian.

“Orang selalu membayangkan sastra itu sebagai hal yang tinggi-tinggi dan muluk-muluk. Padahal sasta itu ada dalam kehidupan sehari-hari dan juga ringan,” ujar Sapardi Djoko Damono di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta pada Kamis (04/02).

Membaca dan menulis merupakan sastra yang bisa dirasakan dan dilakukan sehari-hari. Sesederhana setiap hari orang membaca dan berbunyi, sesederhana itulah sastra bagi Sapardi Djoko Damono.

“Tidak semua orang suka sastra, tidak semua orang cinta sastra. Tapi semua orang membaca. Semua orang membaca dan berbunyi,” ucap Sapardi.

Tak hanya disana, kesederhanaan dalam sastra yang dianut Sapardi juga membuat tidak ada batasan-batasan dalam karya sastra yang ia buat. Tak ada aturan dan teori dalam membuat karya sastra.

Ajaran mengenai aturan dan puisi yang mengharuskan adanya bait dan baris tidak berlaku bagi Sapardi.

Sapardi menjelaskan, “Tidak ada syarat dan teori dalam membuat sastra ataupun puisi. Kalau ada syarat dalam menulis sastra maka syarat yang paling baik ya banyak membaca sastra.”

Berpuisi Dengan Nada

Puisi, sebuah karya sastra yang sering kali dianggap rumit dan tinggi oleh banyak orang. Namun puisi merupakan sebuah musik bagi sastrawan senior Indonesia yakni Sapardi Djoko Damono.

“Puisi itu sebenarnya adalah musik. Sastra itu juga musik,” ucap Sapardi Djoko Damono.

Keterkaitan antara puisi dengan musik ini dilihat Sapardi dari sejarah perkembangan manusia berkomunikasi. Dimana tadinya manusia berkomunikasi dengan suara atau bunyi kemudin berkembang dan muncul aksara atau huruf.

Aksara atau huruf adalah bunyi yang divisualisasikan. Dari yang tadinya hanya bunyi kemudian disimbolkan menjadi bentuk gambar. Munculnya aksara adalah kemajuan dalm perkembanga kehidupan manusia dan juga perkebangan sastra.

“Kalau dilihat sejarahnya, sebelum mengenal aksara orang berkomunikasi dengan menggunakan bunyi. Aksara itukan gambar, bunyi yang divisualisasikan. Kalau sudah divisualisasi jadi bisa dibawa kemana-mana dan dijaga, diawetkan,” ujar Sapardi.

“Sastra adalah huruf, dari yang tadinya bunyi digambarkan. Sehingga bisa lintas zaman, lintas generasi, dan lintas geografi. Makannya kita disini bisa baca karya sastra dari negara lain, dan karya sastra zaman dulu,” lanjut Sapardi.

Dalam perkembangan sastra khususnya puisi juga tak lepas dari yang namanya musik. Keduanya memiliki kesamaan yakni bunyi yang dituliskan, serta tulisan yang dibunyikan. Bahkan bernyanyi juga adalah salah satu cara membunyikan puisi.

Sapardi mengambi contoh budaya Jawa dalam membacakan puisi dengan tembang sebagai salah satu keterkaitan puisi dan musik.

Sapardi menjelaskan, “Dalam budaya Jawa klasik, puisi itu tembang. Bacanya harus ditembangkan, kalau ga ditembangkan bukan puisi. Dalam agama-agama juga membaca ayat kitab suci ataupun doa banyak dengan cara dinyanyikan.”

Sapardi bercerita suatu saat ketika ia diminta membaca puisi, Sapardi enggan membacanya karena menurutnya ia adalah seorang penulis puisi bukan pembaca puisi. Namun, Sapardi menyadari bahwa puisi haruslah dibunyikan. Puisi dan bunyi berhubungan sangan erat.

Sapardi juga bercerita bahwa sudah ada kurang lebih sekitar 70 puisinya yang dijadikan lagu oleh berbagai musisi.

“Saya tidak pernah meminta maupun mendapat apa-apa saat puisi saya menjadi lagu. Itu memberikan kepuasan bagi saya karena lagunya bagus dan yang nyanyinya juga suaranya bagus. Karena dinyanyikan jugalah puisi saya jadi terkenal,” pungkas sastrawan kelahiran Surakarta tersebut.

 

Penulis: Basir Mustofa

Ketua Rayon PMII Alas Ketonggo STKIP Modern Ngawi, aktivis yang hobi menulis

Iklan