Siapa dan Mau Apa Kita?

Oleh : Basir mustofa

Kemajuan teknologi informasi akankah mencerabut nilai-nilai Islam di Tanah Air?

Di negara-negara yang memiliki tradisi yang kuat, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi tidak serta merta mengikis identitas mereka sebagai sebuah bangsa. Bagaimana dengan Indonesia yang mayoritas Muslim, akankah kehilangan warna keislamannya?

Di setiap kurun zaman umat manusia selalu merasa bahwa mereka hidup di era baru, yang mereka tandai dengan berbagai kemajuan, sekadar untuk membedakan bahwa mereka tidak lagi hidup di masa lampau yang serba ketinggalan zaman. Padahal sejarah selalu mencatat bahwa apa yang dianggap baru kini akan berubah menjadi sesuatu yang kuno dan lapuk kelak. Waktu dan sejarah tampak bukan lagi sebuah rangkaian(kontinum), tetapi lompatan-lompatan yang tidak ada lagi pertautannya dengan masa lampau. Tidak ada tradisi. Yang ada adalah produk-produk instan. Juga dalam hal pemikiran. Persepsi kita tentang demokrasi, hak-hak asasi. misalnya, sampai ke tingkat praksis kita oper begitu saja dari tradisi bangsa-bangsa lain yang memiliki nilai-nilai dan perjalanan sejarah yang berbeda dengan bangsa kita. Kita sepertinya malas melakukan pergumulan pemikiran, dan lebih suka mencomot begitu saja gagasan-gagasan dari luar itu.

Kita hampir tidak pernah serius memikirkan siapa kita, dan apa mau kita. Padahal tidak sedikit orang yang, misalnya, berbicara mengenai krisis identitas, lemahnya character building, dan ketidakjelasan akan ke mana bangsa ini melangkah.

Kita memang berada di sebuah era di mana batas antara satu negeri dengan negeri lainnya menjadi kabur. Ini berkat kemajuan teknologi informsi dan komunikasi. Dan berkat kemajuan ini pula mobilitas orang (juga barang dan jasa tentu saja) dari satu tempat ke tempat lain menjadi tinggi. Sangkaan pergerakan ini tidak lagi akan membentuk sebuah masyarakat campuran dalam hal etnis, ras, budaya, bahasa, agama, dan lain-lain. Apakah dalam masyarakat seperti ini, tradisi menjadi tidak penting, dan karena itu harus dikesampingkan?

Pada kenyataannya, negeri-negeri yang memiliki tradisi yang kuat, termasuk tradisi intelektualnya, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi tidak serta merta mengikis identitas mereka sebagai sebuah bangsa. Hanya negeri-negeri yang tradisinya tidak kokohlah yang bakal mengalami krisis identitas ini. Kita boleh khawatir dengan Indonesia yang mayoritas Muslim ini, yang lambat laun akan kehilangan warna kemuslimannya. Tidak sedikit di antara kita yang mulai rikuh jika berbicara tentang aspirasi atau kepentingan umat karena takut dicap sektarian, diskriminatif, dan lain-lain. Maka tidak aneh ungkapan seperti “’Izzul Islam wal muslimin” sudah jarang terdengar lagi. Indonesia adalah negara yang tidak mungkin bisa tegak sampai sekarang tanpa pengorbanan ribuan syuhada, ulama, dan para santri yang memiliki semangat jihad melawan kekuasaan penjajah, kafir hingga kaum penindas, yang dulu digelorakan para ulama. Tetapi jihad yang dulu memiliki pengertian yang suci dan luhur, sekarang konotasinya cenderung negatif, dan selalu dikaitkan dengan tindakan kekerasan bahkan terorizem/teroris.

Sekarang kita berada di zaman teknologi komunikasi dan informasi (yang mungkin tidak lama lagi akan digantikan dengan entah apa namanya). Meski begitu, sekali lagi, bahwa era ini tidak datang tiba-tiba secara instan, tetapi merupakan lanjutan dari era-era sebelumnya. Dimulai ketika manusia melahirkan pengetahuan yang filosofis, yang kemudian berkembang pada abad-abad renaisanse dan pencerahan yang mengembangkan pengetahuan dasar berbasis zaman industri yang bertulang punggung permesinan, lalu sampailah kita di abad teknologi komunikasi dan informasi ini dengan ciri-cirinya yang sudah disebutkan itu. Seperti kita ketahui, ilmu pengeahuan yang berkembang di Barat, yang diiringi dengan perkembangan pesat di bidang teknologi itu, tumbuh berkembang di bawah naungan filsafat sekularisme, yang menempatkan agama ke dalam wilayah keyakinan pribadi dan upacara ritual semata. Paham-paham seperti demokrasi, hak azasi dengan segala turunannya seperti LGBT, lahir dari tradisi sekularisme itu. Faham-faham semacam itu tentu tidak bisa terima atau kita tolak sepenuhnya. Tapi di sinilah justru yang menjadi tantangannya.

Dalam Alquran surat Ibrahim ayat 24 disebutkan; “Kalimah yang baik adalah bagaikan pohon yang baik, akarnya kukuh menghunjam dan cabangnya berkembang di langit.” Kata “kalimah” dalam kalimat Kitab Suci itu, mengandung pengertian yang luas, sejak dari ungkapan sehari-hari sampai kepada ideologi, pemikiran, dan pandangan hidup yang lebih mendalam. Pesan penting yang bisa kita tangkap dari ayat tersebut mungkin ini: setiap ide yang baik harus mempunyai pijakan pemikiran yang bersumber dari pokok ajaran, dan berangkat dari kesadaran akan dimensi sejarah sehubungan dengan upaya untuk mewujudkan ajaran-ajaran itu berkaitan dengan kehidupan yang nyata. Dengan begitu, kita juga diharuskan untuk memiliki kecakapan guna menangkap pesan-pesan sejarah. Dan kita pun akan lebih mampu menangkap pesan masa kini dan masa yang akan datang karena kita telah dibekali oleh wawasan yang kaya. Itu pula makna kata-kata hikmah yang lain yang kita petik dari sebuah kaidah ushul fiqh. Yakni :
“Al-muhafadhatu ‘alal-qadimish-shalih, wal-ahdzu bil-jadidil-ashlah”
(Mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi yang baru yang lebih baik). Maka dengan cara demikian klaim bahwa Islam itu cocok untuk segala zaman dan tempat (shalih likulli zaman wa makan) dapat dibuktikan.

(bashir/aq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*