Syamsul Wathoni, Tokoh Demokrasi Kabupaten Ngawi

Ngawi – Syamsl Wathoni, S.HI, M.Si. (lahir di Ngawi, 06 Juni 1978; umur 41 tahun) adalah aktifis, Akademisi, Konsultan dan Birokrat. Dia pernah menjabat sebagai Komisioner KPU Ngawi selama 9.5 Tahun. Sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ngawi periode 2014-2019 dan Anggota KPU Ngawi periode 2010-2014. Dia juga pernah bekerja sebagai dosen luar biasa di STAIN Ponorogo. Saat ini aktif menjadi dosen tetap di INSURI Ponorogo. Sebelumnya ia adalah salah seorang Aktifis PMII Ponorogo dan Aktifis Nahdlatul Ulama di Kabupaten Ngawi.

Syamsul Wathoni, S.H.I, M.Si

Syamsul Wathoni atau akrab di panggil Tony ini berkiprah sebagai salah satu tokoh di Kabupaten Ngawi melalui Lakpesdam NU. Selama kurun waktu 10 Tahun 2003-2018, Tony dipilih Ketua PCNU Ngawi pada saat itu, KH Khoirul Anam Mukmin sebagai Ketua Lakpesdam NU Ngawi Periode 2003-2008. Dan dilanjutkan pada masa kepengurusan Ketua PCNU Ngawi H. Isrodin Yusuf sebagai Ketua Lakpesdam periode ke 2.

Toni melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang dan meraih gelar master bidang ilmu sosiologi pedesaan pada 2009. Tesis pascasarjananya berjudul Membangun Masyarakat Partisipatif ((Dinamika partisipasi Anggota Perkumpulan Pagar Madani dalam proses perumusan kebijakan anggaran di Kabupaten Ngawi tahun 2007).

Kiprah Tony di kancah sosial politik dimulai di organisasi gerakan mahasiswa. Ia bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ponorogo hingga menjadi salah seorang pengurus PB PMII yaitu Anggota Lembaga Penelitian PB PMII Jakarta tahun 2007.

Kehidupan Awal

Syamsul Wathoni lahir sebagai anak pertama dari empat bersaudara pasangan KH. Ahmad Kusyaeri dan Hj. Siti Masringah. Ayahnya seorang Kyai kampung dan bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi selama 16 Tahun semenjak dirinya masih kelas 6 SD. Sementara Ibunya adalah Seorang Guru Agama SD. Kakek Moyangnya Gajah Surak merupakan salah seorang pejuang pengikut Pangeran Dipononegoro.

Syamsul Wathoni dibesarkan dalam lingkungan pesantren dengan agama yang kuat. Sejak Kecil menjadi santri kalong di Pondok Pesantren Miftahul Ulum,Baluk Karangrejo Magetan, 1984 – 1994. Pendidikannya ditempuh dengan berpindah-pindah. Ia mengenyam pendidikan Dasar di SDN Keras Kulon 1 pada tahun 1984 hingga 1991. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan di MTsN Temboro Magetan pada tahun 1991 hingga 1994. Setelah tamat MTsN, Syamsul Wathoni hijrah ke Jombang untuk melanjutkan Pendidikan Menengah di MAKN Denanyar Jombang dan mondok di Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang hingga lulus tahun 1997. Pendidikan di perguruan tinggi ia jalani di STAIN Ponorogo (Falkutas Syariah). Pendidikan Strata dua nya ia jalani di Fakultas Ilmu Sosiologi Pedesaan Universitas Malang dan ia selesaikan pada tahun 2009.Sebenarnya dia pernah mendafarkan diri di IAIN Walisong Semarang pada tahun 1997, akan tetapi karena alasan ekonomi harus bekerja sebagai buruh Pabrik Sandal merk Homyped di Jakarta.

Syamsul Wathoni bersama Keluarga

Kehidupan Pribadi

Tony menikah dengan Dewi Arina adik kelasnya waktu kuliah di STAIN Ponorogo. Perkenalan dengan Dewi Arina ini menjelang dirinya hampir lulus dari Kampus. Saat ini, Tony dan Dewi tinggal di Perumahan Griya Pratama, Klitik Geneng Ngawi, bersama dua anak mereka: Bena Asrurina Salsabila (lahir 2006), dan Albarik Fajri Ubaidillah (lahir 2012).

Pengalaman

  1. Ketua 1 PMII Ponorogo 2000-2002
  2. Ketua Lakpesdam NU Ngawi 2003-2013
  3. Wakil Ketua PCNU 2013-2018
  4. Ketua KPU Ngawi 2014 – 2019
  5. Masa Aktifis Mahasiswa

Selama menjadi Mahasiswa STAIN Ponorogo Tony selalu aktif membaca buku di perpustakaan dan mengikuti kegiatan diskusi mahasiswa di manapun. Dia juga sempat mengikuti kegiatan diskusi rutin di HMI Ponorogo. Pada kegiatan semester pertama dan kedua dia fokuskan untuk banyak membaca dan berdiskusi. Dia memiliki ambisi untuk mampu menjadi orator yang handal yang dia buktikan pada tahun kedua menjadi koordinator lapangan Orientasi mahasiswa baru (OSMA).Penampilannya menjadi Koordinator lapanngan Osma inilah yang kemudian semakin mendorong dirinya semakin aktif dalam gerakan mahasiswa. Pada tahun 1999, dia terpilih menjadi Ketua Umum IPMAWI Ponorogo 1999 – 2001. Organisasi Pelajar dan Mahasiswa yang berasal dari daerah Ngawi.

Pada tahun yang sama, Toni juga mulai aktif dan terpilih menjadi Ketua I Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) STAIN Ponorogo. Selama di PMII, Toni mendorong agar organisasi tersebut mampu mendobrak kebekuan intelektual. Pada masanya, para aktifis mahasiswa mulai berkenalan dengan wacana Filsafat, Pemikiran Islam dan Gerakan sosial. Buku buku yang membahas pemikiran para tokkoh filsafat seperti Rene Descartes, Paulo Freire, Karl Mark, Antonio Gramsci serta Che Guevara menjadi topik diskusi yang hangat. Tidak hanya itu, buku buku yang mengupas pemikiran Hasan Hanafi, Abid Al Jabiri serta pemikiran Gus Dur dikupas habis dalam kajian PMII.
Syamsul Wathoni sebagai salah seorang penggerak PMII STAIN Ponorogo telah mampu menginspirasi para generasi di zamannya untuk tampil sebagai aktifis yang cerdas dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Rumah Kontrakan di Jalan Pramuka nomor 13 B yang menjadi markas PMII yang dulu dia tempati, sampai saat ini (tahun 2019) masih menjadi Sekretariat PMII STAIN Ponorogo.

Puncak Karir di PMII Ponorogo adalah menjabat sebagai Ketua I PC PMII Ponorogo. Kemudian dilanjutkan dengan menjadi Anggota Biro PKC PMII Jatim pada tahun 2003 – 2005. Tony juga melanjutkan karirnya di PB PMII Jakarta pada tahun 2005-2007 menjadi Anggota Lembaga Penelitian PB PMII. PMII bagi Tony merupakan kawah candradimuka pengkaderan para anak muda Islam Tradisionalis. Hidupnya selalu dikelilingi oleh para kader PMII dari angkatan ke angkatan, hingga akhirnya Tony dipercaya sebagai ketua Alumni PMII (IKA-PMII) Kabupaten Ngawi 2008 – 2017. Dia merupakan salah satu senior PMII yang menjadi mentor sekaligus rujukan kader kader PMII dalam beraktifitas.

Perjalanan Tony menjadi aktifis mahasiswa memperkenalkan dia pada dunia intelektual dan dunia pendampingan masyarakat. Dia mengikuti bangku perkuliahan sambil menjadi pendamping masyarakat pinggiran ponorogo. Ada dua kasus yang pernah didampingi. Pendampingan Kelompok Becak Ponorogo yang memprotes kebijakan Transportasi yang merugikan mereka serta pendampingan kelompok Tani Suromenggolo Ponorogo. Seringkali dia tidur di rumah petani yang dia dampingi kemudian setelah pagi berangkat kuliah. Pendampingan ini dia lakukan selama tahun 1999 – 2001 bersama dengan LSM Bina Desa serta Serikat Tani Nasional salah satu organ Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Keaktifan Tony di dunia gerakan membuatnya berkenalan dengan Aktifis Front Perjuangan Pemudia Indonesia (FPPI) Malang dan Surabaya. Dia sendiri akhirnya terpilih menjadi Koordinator Jaringan Mahasiswa dan Pemuda Untuk Demokrasi (JMPD) Ponorogo selama tahun 2000 – 2001. Isu yang dia usung pada saat itu adalah Bubarkan Orde Baru dan tuntutan reformasi Total. Selain itu dia juga terpilih menjadi Koordinator Aksi Gerakan Mahasiswa (GEMA) Ponorogo 2001 dan Sekretaris Front Reformasi Total (FRT) Ponorogo 2001.

Aktifitas Intra kampus yang digeluti Tony adalah mengikuti Lembaga Pers Mahasiswa ”Al MILLAH” serta Senat Mahasiswa. Dia menggeluti dunia jurnalistik dan dunia tulis menulis selama di Al Millah yang kemudian mengantarkan dia menjadi Pimpinan Redaksi Pelaksana Majalah Mahasiswa “Al-Millah” selama tahun 2001 – 2002. Selama itu pula dia telah ikut menerbitkan 4 edisi Majalah Al Milah.
Selain itu dia juga menjadi Pengurus Senat Mahasiswa sebagai Sekretaris Umum pada tahun 2000 – 2001. Jaringan Senat Mahasiswa ini yang kemudian mengantarkan dia menjadi Koordinator Aliansi BEMI (Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia) Ponorogo 2000 – 2001. Pada tahun itu, suasana politik nasional memanas yang akhirnya terjadi pergantian Presiden Gus Dur ditengah jalan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

Aktifitas intelektual Tony dimulai ketika dirinya bertemu dengan salah seorang dosen STAIN Ponorogo Ahmad Zainul Hamdi atau dikenal dengan mas Inung. Darinya Tony banyak belajar tentang Filsafat, Pemikiran dan Metode Berfikir Kritis dan tergabung dalam Forum kajian Barongan pada tahun 2000 – 2001. Tony juga menggalang beberapa kader muda PMII yang haus akan pengetahuan dan kemudian mendirikan Lembaga Kajian eLPASO pada tahun 2001 – 2002.
Perkenalan dengan Ahmad Zainul Hamdi ini yang kemudian mendorong Tony untuk bergabung dengan jaringan intelektual muda Nahdliyin di Jawa Timur. Melalui Lembaga Studi Agama dan Demokrasi (eLSAD) Tony banyak belajar menulis dan terlibat dalam penelitian serta penerbitan majalah Gerbang. Elsad Surabaya berjejaring dengan LKiS Jogjakarta serta LP3ES Jakarta. Selama kurun waktu 2001-2002 Tony mondar mandir Ponorogo Surabaya untuk tetap bisa mengikuti perkulian di akhir semester serta aktif di PC PMII Ponorogo dan aktif di eLSAD Surabaya.

Sampai akhirnya Pada Tahun 2002, Tony merampungkan Kuliah S1 nya di STAIN Ponorogo tepat pada semester 8 dan menulis skripsi yang berjudul ”Studi Kritis Pemikiran Hukum Islam KH.Masduki Mahfud dalam Rubrik bahtsul Matsail Majalah Aula (Pendekatan Analisis Wacana)”.
Menjadi Ketua Lakpesdam NU.

Lulus dari STAIN Ponorogo membuat Tony harus berhijah kembali ke Kota Kelahirannya Ngawi. Pada tahun 2002 dia membuka jaringan berkenalan dengan banyak tokoh di Ngawi. Sampai akhirnya dia bergabung dengan LSM Prima Ngawi. Sebuah LSM yang saat itu concern pada kegiatan pengembangan masyarakat seperti Simpan Pinjam dan ternak lele serta concern pada pemberdayaan masyarakat berupa penguatan demokrasi desa. Selain itu Tony juga bergabung menjadi wartawan sekaligus Pimpinan Redaksi di Tabloid Lokal ”Lentera” pada tahun 2003.
Aktifitas menjadi Narasumber dalam Pelatihan BPD yang diselenggarakan oleh LSM Prima ini menjadikan Tony berkenalan dengan tokoh tokoh Nahdlatul Ulama. Pada akhirnya pada bulan Agustus 2003, Syamsul Wathoni diberi mandat untuk menjadi Ketua Lakpesdam NU Ngawi. Bersama dengan beberapa tokoh di Ngawi, Tony merintis berdirinya Lakpesdam NU sebagai lembaga berkumpulnya anak muda NU Ngawi. Beberapa mantan aktivis PMII dari berbagai daerah dan „pulang kampung” banyak yang bergabung di Lakpesdam.

Lakpesdam NU Ngawi pada saat itu mengelola program Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR). Melalui kegiatan inilah Tony concern bergelut di dunia kepemiluan dengan mengirimkan banyak relawan untuk memantau pelaksanaan pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada tahun 2004 di Kabupaten Ngawi. Pada tahun 2005 juga terlibat menjadi pemantau Pemilihan Kepala Daerah serta pemantauan Pemilu 2009. Puncak karir sebagai pemantau pemilu adalah saat menjabat Koordinator Propinsi Jawa Timur dalam Program Indonesian Democracy Indeks yaitu penelitian kualitas pemilu dan demokrasi di Jawa Timur.

Selama menjadi ketua Lakpesdam NU, Tony banyak terlibat menjadi peneliti. Diantaranya terlibat dalam Penelitian tentang kekuatan Partai Politik dan kecenderungan pemilih tahun 2004 di Kota Madiun oleh LSM Forum Lintas Masyarakat (FORLIMAS) Surabaya. Tony juga menjadi surveyor dalam program penelitian partisipasi masyarakat dalam Program Pengembangan Kecamatan (PPK) oleh Sekretariat P4-PPK Yogyakarta-Word Bank di Kabupaten Magetan. Pada akhir tahun 2004, Tony sempat bekerja di DPR RI sebagai Staf Ahli Anggota DPR RI akan tetapi mengundurkan diri pada tahun 2005.
Di Lakpesdam NU, Tony juga bergelut dengan isu Manajemen Bencana dan Advokasi Anggaran serta program pendampingan masyarakat yaitu PAMDKB dan JPES. Kegiatan PAMDKB dan JPES adalah program Pemerintah Propinsi Jawa Timur berupa pembangunan pasar dan pembangunan infrastruktur di Pedesaan diKabupaten Ngawi selama tahun 2006-2007.

Bencana Gempa Bumi yang melanda Yogyakarta dan Klaten mendorong Tony dan kawan-kawannya di Lakpesdam NU Ngawi menjadi relawan. Bersama LSM SARI SOLO Tony bekerja sebagai relawan selama hampir 2 minggu membantu masyarakat terdampak bencana.

Banjir besar yang melanda daerah di sekitar Bengawan Solo dan Bengawan Madiun menjadikan Tony harus bergelut dengan kegiatan penanggulangan bencana. Atas dukungan beberapa lembaga internasional seperti Muslim Aid, Oxfam GB dan Care Internasional Tony banyak membantu masyarakat melalui kegiatan Pelatihan serta kegiatan tanggap darurat.

Aktifitas sosial yang dilakukan oleh Tony selama di Lakpesdam NU adalah Advokasi Anggaran Pro Poor Budgetting. Melalui Program PBET (Participatory Budgetting Expenditure Tracking) di Ngawi pada tahun 2006-2009, dia mendorong perubahan kebijakan anggaran di Pemerintah Kabupaten Ngawi. Lakpesdam NU yang dikomandani oleh Tony memberikan pendidikan anggaran kepada para stakeholder masyarakat yang selanjutnya tergabung dalam Civil Society Organisation (CSO) Pagar Madani. Selain itu, melakukan Tracking anggaran terhadap 5 Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Kabupaten Ngawi yaitu Pendidikan, Kesehatan, Pertanian, PU Bina Marga dan Pengairan. Hasilnya bersama seluruh stakeholder lain berhasil mendorong Pemerintah Daerah untuk mempublikasikan APBD sebagai bentuk transparansi. Bahkan Pemerintah Kabupaten Ngawi mengesahkan Perda Pelayanan Publik dan Perda TPA (Transparansi, Partisipasi dan Akuntabilitas).

Kegiatan advokasi anggaran Lakpesdam NU kemudian difokuskan pada advokasi anggaran kebijakan pendidikan. Program ini dilakukan untuk mendorong agar Pemerintah Daerah mampu membuat Spatial Planing Perencanaan Spasial kebijakan pendidikan. Targetnya adalah Pemkab memiliki peta wilayah sebaran buta huruf dan Angka Putus Sekolah serta perencanaan anggaran agar mampu menanggulangi masalah pendidikan tersebut.

Selama Menjadi Ketua Lakpesdam NU, selain pernah bekerja sebagai konsultan dalam Program Prakarsa Pembaruan Tata Pemerintahan Daerah (P2TPD) Depdagri yang dibiayai dari World Bank, Syamsul Wathoni sering bekerja sebagai peneliti dan surveyor diantaranya:

  1. Penelitian Indek Pembangunan Manusia Kabupaten Ngawi 2006, Balitbangda Ngawi – Unair
  2. Penelitian Potensi Usaha Perempuan Usia Produktif 2006, Balitbangda Ngawi, Unair
  3. Survey Program Pembangunan Prasarana Fisik APBD Ngawi tahun 2006-2007
  4. Survey sistem Perencanaan dan Penganggaran Daerah, 2007
  5. User Based Survey (UBS) pelayanan Puskesmas di Kabupaten Ngawi, Lakpesdam 2008
  6. Survey Kinerja Kelembagaan NU sebagai Organisasi Sosial Keagamaan dan Identifikasi Kebutuhan Pengembangan SDM NU, LP3ES-PP Lakpesdam NU, 2009
  7. Survey Angka Partisipasi Sekolah di kabupaten Ngawi tahun 2010
  8. Survey percepatan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Ngawi tahun 2010, Bappeda Kab Ngawi
  9. Survey percepatan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Ngawi tahun 2011, Bappeda Kab Ngawi

Aktifis Ansor dan NU

Syamsul Wathoni merupakan kader NU yang berkhidmat penuh dibawah bendera Nahdlatul Ulama. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk beraktifitas di NU. Selain aktif di Lakpesdam NU, Tony juga menjadi pengurus organisasi dibawah naungan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Ngawi maupun di Jawa Timur.

Tony menjadi salah satu pengurus dan instruktur Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Ngawi. Selama tahun 2008-2013, Tony dipercaya mengurusi lembaga pers di tubuh gerakan Pemuda Ansor Ngawi kemudian menjadi Wakil Ketua PC.GP ANSOR Kab. Ngawi periode 2013 – 2017. Tidak hanya itu, Tony bahkan dipercaya sebagai Wakil Sekretaris PW.GP ANSOR JATIM dimasa kepemimpinan H. Rudi Tri Wahid Tahun 2014-2018.

Selain itu, Tony juga banyak berkiprah dalam kegiatan NU Jawa Timur. Dia dipercaya menjadi salah satu pengurus PW LPPNU Jawa Timur 2008 – 2013 di bidang pertanian dan Pengurus SER (Social Emergency Response) PWNU Jawa Timur 2008-2013 di bidang penanggulangan bencana.

Setelah menjabat Ketua Lakpesdam NU 2 periode, akhirnya Tony dipercaya sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Ngawi periode 2013 – 2018. Ada 3 program besar yang berhasil di laksanakan oleh PCNU Ngawi periode tersebut yaitu : 1. Pengadaan Tanah dan pembangunan Masjid NU, 2. Kaderisasi pengurus NU melalui PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak NU) dan 3. Pembentukan HPN (Himpunan Pengusaha Nahdliyin). Saat ini, PCNU Ngawi berhasil mengumpulkan infaq warga NU sebesar 2 Milyar lebih untuk pengadaan Tanah untuk Pembangunan kantor dan Masjid NU. Infaq tersebut termasuk dari para politisi NU lintas partai di Kabupaten Ngawi. Sedangkan kaderisasi melalui PKPNU telah berhasil memberikan pendidikan kader pada 1000 kader penggerak NU Ngawi. Saat ini Syamsul Wathoni dipercaya untuk berkhidmat di Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ngawi. Dia menjabat Ketua Bidang Hukum MUI Kab Ngawi periode 2017 – 2021.

Komisioner KPU 2014-2019

Menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum Ngawi

Syamsul Wathoni dilantik menjadi PAW Anggota KPU Ngawi masa jabatan 2009-2014 pada tanggal 1 Februari 2010 oleh Ketua KPU Jawa Timur. Dia menggantikan salah satu anggota KPU Ngawi yang mengundurkan diri. Selama bekerja di KPU Ngawi, Tony memegang Divisi Teknis, dvisi yang mengurusi persoalan Pencalonan, Pemungutan dan Penghitungan Suara, Rekapitulasi Penghitungan Suara, Penetapan Calon terpilih dan Pergantian Antar Waktu Anggota DPRD. Terhitung selama di KPU Tony melaksanakan 2 kali Pemilihan Bupati, 2 kali pemilihan Gubernur, 2 kali pemilihan DPR, DPD dan DPRD serta 2 kali pemilihan Presiden.

Selama menjadi anggota KPU, Tony bekerja sepenuh waktu. Setiap senin sampai jum’at, bekerja mulai pukul 08.00 – 09.00 Wib sampai pukul 17.00 Wib disaat KPU sedang longgar. Namun jika tahapan pemilu mulai padat, saya bekerja mulai pukul 08.00 sampai pukul 22.00. Kecintaannya pada KPU dan komitmennnya menyelesaikan pekerjaan sangat tinggi. Tony memiliki bekal yang cukup untuk mampu menjadi anggota KPU yang cakap. Dia menguasai ilmu perencanaan analisis sosial, menerjemahkan program serta mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Dalam bekerja tony selalu memberikan arahahan kepada staf sekretariat KPU, memberikan contoh serta memberikan inspirasi dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan secara profesional, melaksanakan suatu kewajiban, mengevaluasi dan memperbaiki kesalahan. Diantaranya adalah memberikan contoh dalam menyusun surat, berita acara, konsep kegiatan serta teknik mendokumentasikan kegiatan dalam bentuk notulen. Hal ini dicontohkan tony pada saat pelaksanaan verifikasi faktual anggota Partai Politik Tahun 2013. Dia memberi contoh dengan mengerjakan sendiri Verifikasi terhadap 100 orang anggota parpol dan membantu para staf yang kesulitan melakukan verifikasi faktual di lapangan.

Komisioner KPU 2014-2019

Kemampuan Tony dalam berkomunikasi dan mengambil terobosan selama di KPU menjadikan dia terpilih kembali pada saat mendaftarkan diri sebagai anggota KPU Ngawi periode 2014-2019. Bahkan Tony dipercaya oleh 4 koleganya sebagai Ketua KPU Kabupaten Ngawi. Selama memimpin KPU Ngawi, dia memiliki sikap responsif terhadap persoalan-persoalan yang akan terjadi dan bersedia turun ke lapangan dan bersedia memahami masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Baginya, “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau memahami persoalan yang terjadi di lapangan”.

Tony menganggap semua pegawai KPU adalah keluarganya. Dia tidak membedakan status dan jabatan. Dia selalu berupaya mengakrabkan diri dengan para staf, satpam, sopir dan petugas kebersihan. Tony menganggap bahwa mereka adalah para tulang punggung KPU. Tanpa keberadaan mereka, KPU tidak akan berjalan dengan maksimal. Kedekatan personal inilah yang menjadikan dia tahu banyak persoalan-persoalan yang terjadi di bawah. Bagaimana sulitnya para staf menerjemahkan kebijakan yang ada tanpa ada panduan dari komisioner. Keluhan PPK dalam melaksanakan kebijakan dari KPU. Ketika PPK mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan, Tony tanpa ragu membantu menganalisis permasalahan tersebut untuk di pilih alternative solusi yang paling tepat. Dalam menghadapi setiap persoalan di KPU, seringkali Tony mengajak teman-teman komisioner untuk mendiskusikan persoalan-persoalan di bawah dan melakukan kunjungan ke lapangan.
Tony memiliki ketegasan sikap dalam memimpin. Menurutnya hal itu merupakan faktor penting suksesnya penyelenggaraan pemilu. Karena terlalu banyak pertimbangan dan ragu dalam mengambil keputusan, akan berpotensi menimbulkan persoalan pemilu yang makin runyam. Diantara contoh ketegasan sikap tony selama menjadi KPU adalah : memutuskan melanjutkan penghitungan suara Pemilu 2014 di beberapa TPS di Kabupaten Ngawi yang sempat terhenti karena terjadi salah cara menghitung oleh KPPS. Setelah dia dalami permasalahannya, dan rujukan dalam Peraturan KPU sudah jelas, maka dia berkoordinasi dengan komisioner lainnya dan panwaslu Kabupaten.
Dibawah kepemimpinan Syamsul Wathoni sebagai ketua KPU, KPU dianggap menjadi lembaga yang kuat, berintegritas tinggi serta profesional dalam memberikan pelayanan. Ada beberapa capaian keberhasilan diantaranya :

  1. KPU semakin Profesional. Hal ini dibuktikan dengan adanya timwork yang berkapasitas handal dan mampu bekerja sama dengan baik. Masing-masing komisioner bekerja sesuai divisinya dengan baik. Demikian juga dengan sekretariat KPU. Sekretaris, Kasubag dan Staf bisa bekerjasama membantu komisioner dalam melaksanakan kebijakan. Profesionalitas ini dibuktikan dengan adanya 3 penghargaan oleh KPU Jawa Timur kepada KPU Ngawi. Juara 1 Divisi Teknis penyelenggara, Juara 1 Divisi Perencanaan data dan Juara 1 Divisi Logistik. Bagi Tony, Komisioner KPU harus memahami betul pasal demi pasal peraturan Pemilu yang ada, karena posisi komisioner selalu menjadi “perpustakaan” berjalan yang selalu menjadi sumber informasi bagi setiap orang terkait pemilu. Selain itu komisioner selalu menjadi rujukan para staf dalam melaksanakan tugas dan kewajiban di KPU.
    Tony berpandangan dengan mengutip pendapat Samuel Johnson, Integritas tanpa pengetahuan adalah lemah dan tidak berguna, dan pengetahuan tanpa integritas adalah berbahaya dan mengerikan. Bekerja di lembaga yang mengurusi politik semacam KPU, tidak bisa hanya bermodalkan integritas semata tanpa dilandasi pengetahuan politik yang memadai. Karena bisa jadi kejujuran yang “lugu” tanpa mengetahui persoalan yang sebenarnya hanya akan menjadikan KPU dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu.
  2. Pemilu semakin Berintegritas. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan Pemilu yang luber Jurdil tanpa ada kecurangan. KPU, PPK PPS dan KPPS berkomitmen untuk menjamin hak konstitusi warga Negara memilih dan menjaga pilihan mereka agar tetap sesuai tanpa ada rekayasa. Terbukti tahapan pemungutan dan penghitungan suara berjalan dengan baik tanpa ada rekayasa atau penggelembungan suara. Salinan formulir C1 berisi perolehan suara di TPS di scan dan dientry serta dipublikasikan di website. Hasilnya sama dengan hasil rekapitulasi manual di PPK atau KPU. Selain itu, selama pelaksanaan pemilu, tidak ada laporan atau keputusan DKPP dan Bawaslu yang memberhentikan jajaran penyelenggara pemilu di Ngawi.
  3. Kepuasan Partai Politik meningkat. Hal ini dibuktikan adanya komunikasi yang baik antara KPU dan peserta pemilu. Dalam setiap tahapan di KPU, KPU selalu memberi informasi pemilu kepada semua partai politik tanpa terkecuali.

Menjadi Dosen

Syamsul Wathoni juga tercatat sebagai dosen tetap di Kampus Insuri Ponorogo. Selain itu dia juga menjadi dosen luar biasa di STAIN Ponorogo (sekarang IAIN). Dia mengajar mata kuliah sosiologi sosiologi hukum, teori sosiologi, psikologi social, sosiologi perkotaan dan pedesaan. Selain itu dia juga mengajar mata kuliah tentang komunikasi dan teknis intervensi sosial.

Sumber : Biodata Diri Syamsul Wathoni, S.H.I, M.Si 

(aq/mf)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*