Tilik (2018), Kok Bisa Viral !

Ngawi | ngawikita.com – Saya heran, kenapa to kok pada kecewa sama ending Tilik? Di sisi mana Tilik memberikan pesan moral yang buruk dengan “membenarkan” para peng-ghibah?

Gini lho. Bu Tejo itu menuduh Dian jadi ciblek, dapat duit dari menjual tubuh. Ngelonte lah, istilah halusnya.

Tapi apakah faktanya demikian? Ya jelas enggaaak. Simak saja, Dian berhubungan asmara dengan seorang lelaki. Dian sudah dewasa, pacarnya itu lelaki duda, bukan suami orang, cuma kebetulan saja umurnya berlipat-lipat lebih tua daripada Dian.

Lah emang salahnya di mana? Suka-suka dia sendiri to yaaa. Milih-milih sendiri, bukan karena kawin paksa atau sejenisnya. Mau pas yang-yangan dikasih motor, hape, coklat Kedburi, novel Tere Liye, atau sepatu Converse, lha yo bebaaas! Dan itu yang-yangan, koyo kowee, bukan nyibleekk!

Sikap Dian itu justru menunjukkan kemerdekaan seorang perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri, tanpa harus dikendalikan oleh konstruksi dan tekanan sosial! Uhuk!!!

(Dan persis di titik itulah ending Tilik menunjukkan bahwa hoax Bu Tejo 100% salah. Pesan moral Tilik sebagai kampanye anti-hoax tersampaikan sudah.)

“Trus kenapa mereka berdua, pasangan beda umur jauh itu, ndhelik-ndhelik alias ngumpet-ngumpet dengan hubungan asmara mereka? Kenapaa??”

Ya jelas karena belum siap ketahuan Bu Tejo dan sejenisnya, lah! Takut juga. Kenapa takut? Tentu saja takut dengan serbuan lambe-lambe tajem ituuuu, piye sih? Itu lambe-lambe bahaya kabeeh!

“Lho kalo gak salah, kenapa takut?”

Wue e e e, sejak kapan di negeri ini yang mesti takut harus selalu pihak yang salah?? Lha wong situ aja diutangi duit sama orang, eee pas papasan sama si pengutang malah yang ngumpet situ sendiri gitu kok wkwkwkwk!

Penulis : Basir Mustafa

Editor : Ahmad Qudori

Iklan