Ujian Hanya Sebuah Refleksi

Oleh : Basir mustafa

 

Ujian. Ya Ujian akhir semester adalah sesuatu yang membosankan bagiku saat menduduki bangku sekolah selama 12 tahun lamanya. Malas dan ogah-ogahan untuk mengikutinya, karena bagiku (saat itu) merupakan suatu hal yang tidak begitu penting dan hanya membuang waktu dan energi saja.

Ujian dilaksanakan dalam rangka mengetahui kompetensi siswa tentang sejauh mana memahami mata pelajaran yang telah disampaikan selama satu semester. Akan dapat diketahui melalui nilai akhir dari akumulasi jawaban ‘benar’ dan ‘salah’ yang berbasis angka. Namun, jika melihat praktiknya, kondisi lapangan tidak sejalan dengan apa yang direncanakan. Tidak ada pengerjaan soal secara independen dan murni atas dasar pemahaman personal. Pastilah campur tangan orang lain selalu saja ada dan tidak pernah bisa dihindari. Dengan demikian ujian (bisa jadi) tidak penting.

Selain itu, pada masa ujian Akhir semester, (kebanyakan) para siswa justru disibukkan dengan aktivitas belajar dadakan yang ditempuh beberapa jam di malam hari. Suatu hal yang lazim bagi masyarakat Indonesia, khususnya saya sendiri yang pernah melakukannya karena takut tidak bisa menjawab dan malu (meski di kelas nanti bertebaran jawaban seperti kapas yang tertiup angin). Para siswa, (bahkan kita) selalu saja senang dengan cara yang instan, tanpa melalui proses yang panjang. Tentu itu adalah hal yang tidak baik, karena sesuatu (pengetahuan) yang didapat secara instan tidak akan dapat bertahan lama dalam ingatan.

Buktinya di beberapa pesantren hafidz/Hafidzah menggunakan metode hafalan dengan irama pelan. Hal tersebut diterapkan sebagai upaya memperkuat hafalan para santri, agar tidak mudah lupa. Sebab, jika hafalan dilakukan dengan irama yang cepat, maka ingatan itu akan mudah kabur dan menjadi bayang-bayang belaka. Itulah pentingnya sebuah proses yang harus ditempuh.

Peristiwa ini mengingatkan saya pada perkataan salah satu tokoh anime terkenal di dunia. Ya, Naruto seringkali mengatakan ‘Tidak ada jalan pintas menjadi ninja’. Saya memaknai kata tersebut, muncul untuk menjadi motivasi bagi diri (naruto) sendiri yang waktu itu sangat ingin menjadi hokage tetapi kekuatannya masih terbatas. Tidak hanya itu, dia juga sangat ingin menjadi kuat untuk bisa membawa kembali sasuke ke konoha.

Dari sini dapat diambil benang merahnya, yang terpenting dari keberhasilan adalah proses usaha untuk mencapainya. Toh, tidak ada jalan semulus lintasan moto GP. Tidak ada jalan selurus lintasan drag race. Semua mempunyai porsi dan tujuannya. Sekali lagi, jangan lupakan proses pencapaian.

Jangan terlalu serius. Sesekali bercandalah untuk kehidupanmu yang sempurna.
Selamat berbahagia
Salam Sejahtera Untuk kita semua.

(bashir/aq)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

*

*